China Bersiap Hentikan Subsidi Kendaraan Listrik, Serahkan Nasib Industri ke Pasar
JAKARTA — Dalam beberapa tahun terakhir, pabrikan mobil asal China, terutama yang fokus pada kendaraan listrik menunjukkan kesuksesan luar biasa. Berbagai pencapaian mereka bahkan berhasil menyaingi, dan dalam beberapa kasus melampaui produsen otomotif besar yang telah lama mendominasi pasar global.
Namun kini pemerintahnya sendiri telah mengirimkan sinyal jelas bahwa mereka siap untuk mengakhiri subsidi besar-besaran bagi industri kendaraan listrik (EV). Ini dilakukan setelah bertahun-tahun dukungan pemerintah memicu ledakan yang kini menyisakan kelebihan pasokan besar-besaran, memaksa produsen China untuk berekspansi ke pasar global.
Dilaporkan Reuters, dikutip Kamis, 30 Oktober, para pembuat kebijakan utama di China kini telah menghilangkan kendaraan listrik dari daftar industri strategis dalam rencana pembangunan lima tahun 2026-2030 terbaru mereka, sebuah pengecualian pertama dalam lebih dari satu dekade bagi industri tersebut.
Para analis menafsirkan langkah ini sebagai bukti bahwa Beijing menganggap industri EV telah matang dan tidak lagi membutuhkan tingkat dukungan finansial yang sama, menyerahkan perkembangannya pada mekanisme pasar.
"Ini adalah pengakuan resmi bahwa kendaraan listrik tidak lagi membutuhkan kebijakan yang diprioritaskan. Subsidi kendaraan listrik akan memudar," kata Dan Wang, direktur perusahaan konsultan Eurasia Group.
Meskipun industri EV sempat menjadi "anak emas" yang dikritik Presiden Xi Jinping karena kompetisi berlebihan, penghilangan dari daftar strategis ini tidak berarti industri tersebut tidak lagi disukai. Sebaliknya, hal ini mencerminkan keputusan strategis untuk mengalokasikan sumber daya ke teknologi lain di mana China berupaya meningkatkan kemampuannya, terutama di tengah ketegangan perdagangan dan keamanan global.
另请阅读:
Kapasitas Berlebih Mendorong Perubahan
Kendaraan energi baru (NEV) yang meliputi EV, plug-in hybrid, dan kendaraan sel bahan bakar sebelumnya dimasukkan sebagai industri strategis dalam tiga rencana lima tahun sebelumnya. Dukungan ini membantu China menguasai rantai pasokan dan menjadikannya pasar NEV terbesar di dunia.
Pada Juli 2024, NEV menyumbang lebih dari 50 persen dari total penjualan mobil di China, jauh melampaui target awal para pembuat kebijakan.
Namun, pertumbuhan pesat dan dukungan ini juga menyebabkan produsen domestik memproduksi mobil melebihi daya serap pasar. Menurut perusahaan riset Jato Dynamics, 93 dari 169 produsen mobil yang beroperasi di Tiongkok memiliki pangsa pasar di bawah 0,1 persen.
"Dari sudut pandang negara, tidak perlu lagi terlalu memperhatikan (NEV), atau itu dapat menyebabkan kelebihan kapasitas yang lebih besar," jelas Tu Xinquan, Dekan dan Profesor China Institute for WTO Studies.