Sekjen NATO Ingin Sekutu Percepat Inovasi dan Investasi di Bidang Bioteknologi untuk Perkuat Pertahanan
JAKARTA - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte mendesak sekutu aliansi untuk mempercepat inovasi dan investasi di bidang bioteknologi guna memperkuat keunggulan militer aliansi.
Berbicara pada Konferensi Bioteknologi pertama NATO di Belgia pada Hari Selasa, Rutte menggambarkan acara tersebut sebagai "langkah yang berarti" untuk meningkatkan kolaborasi dan memanfaatkan potensi bioteknologi.
"Memajukan inovasi di bidang bioteknologi adalah bagian penting dari hal ini," ujarnya, dikutip dari Anadolu 29 Oktober.
"Ini akan membantu memastikan militer kita memiliki kemampuan terbaik dan tercanggih," tandasnya.
Lebih jauh Rutte menekankan, pertahanan modern membutuhkan lebih dari sekadar aset militer tradisional.
"Untuk tetap aman, kita tidak hanya membutuhkan tank, jet, kapal, drone, dan amunisi," ujarnya.
"Kita juga perlu mengembangkan, memperoleh, dan mengintegrasikan bioteknologi ke dalam kemampuan pertahanan kita," tandas Rutte.
Memperingatkan Tiongkok dan Rusia sudah maju pesat di bidang ini, Rutte mencatat "pendanaan publik untuk penelitian bioteknologi Tiongkok mencapai setidaknya 3 miliar dolar AS pada tahun 2023" dan "strategi Tiongkok di bidang ini mempersenjatai rantai pasokan dan pembatasan perdagangan."
Di sisi lain, Rutte menuduh Rusia menggunakan bioteknologi untuk tujuan rahasia.
"Rusia, Rusia, berusaha mengeksploitasi alat-alat berbahaya, seperti program senjata biologisnya, yang dapat digunakannya untuk melawan musuh-musuhnya," ujarnya.
"Kita tidak boleh membiarkan mereka memanfaatkan keuntungan ini," Rutte memperingatkan, merujuk pada Tiongkok, Rusia, dan negara-negara lain, termasuk Korea Utara dan Iran.
Menyoroti kemajuan NATO sendiri, ia menunjuk pada Strategi Bioteknologi & Peningkatan Manusia aliansi tersebut dan pekerjaan Akselerator Inovasi Pertahanan untuk Atlantik Utara (DIANA), yang telah mendanai "total 28 perusahaan bioteknologi yang menjanjikan" selama dua tahun terakhir.
另请阅读:
Ia mengatakan, bioteknologi telah digunakan dalam konteks militer, termasuk telemedis, penyediaan darah, dan teknologi yang dapat dikenakan yang memantau kelelahan dan tanda-tanda awal trauma.
"Aplikasi-aplikasi ini meningkatkan kemampuan fisik, kognitif, dan juga sensorik," ujar Rutte.
"Ini membuat kita lebih kuat, dan membuat kita lebih aman," tandasnya.
Rutte pun meminta para sekutu "untuk meningkatkan upaya guna memastikan kita tetap berada di garda terdepan dalam revolusi bioteknologi," dengan mengatakan NATO memiliki "infrastruktur kelas satu, tenaga kerja yang sangat terampil, kemampuan penelitian dan pengembangan yang tangguh, dan banyak lagi."