Imbas Tarif Dagang AS, IHSG Berpotensi Lesu Usai Libur Lebaran
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi akan lesu usai libur Lebaran. Apalagi, sepanjang libur Lebaran terjadi disrupsi di pasar saham global akibat beberapa sentimen seperti pengenaan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap berbagai negara.
Menurut Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, tarif ini diberlakukan terkait surplus perdagangan non-migas Indonesia dengan AS yang mencapai 16,84 miliar dolar AS, dengan total surplus Indonesia untuk sepanjang 2024 sebesar 31,04 miliar dolar AS.
"Sehingga kami melihat dampaknya akan signifikan kepada: produsen ekspor, CAD membengkak dan hingga depresiasi Rupiah," ujarnya kepada VOI, Selasa, 8 April.
Sentiment lainnya, Audi menyampaikan seperti pelemahan harga komoditas energi, terutama minyak mentah, setelah OPEC+ mengumumkan rencana peningkatan produksi minyak sebesar 440 ribu barel per hari mulai Mei 2025.
Selain itu, Audi menyampaikan harga komoditas andalan Indonesia, seperti batubara yang turun ke 97 dolar AS per ton, tembaga yang anjlok 9 persen, CPO yang kembali turun di bawah MYR 4.300 per ton, serta nikel yang tertekan ke bawah level psikologis 15.000 dolar AS per ton.
Audi menambahkan seperti peringatan dari Federal Reserve, di mana Jerome Powell pada pidatonya sebelumnya menyatakan kekhawatirannya terkait perlambatan ekonomi dan kenaikan inflasi AS yang dapat meningkatkan potensi gejolak ekonomi global.
"Dampaknya BI rate kemungkinan sejalan, sehingga cost of fund akan tetap tinggi yang akan memperlambat aktivitas emiten dan ekonomi," jelasnya.
Audi memprediksi pasar akan mulai merespons dampak-dampak tersebut pada hari pembukaan bursa pasca libur lebaran dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan cenderung melemah dengan support psikologis di rentang 6.000-6.100 dan resistance di level 6.600-6.670.
"Bahkan jika 8 April, IHSG breakdown psikologis support, maka kami melihat skenario bearish hingga level 5.700-5.750. Tekanan asing juga berpotensi berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi," ujarnya.
Menurutnya kekhawatiran pasar terkait perlambatan pertumbuhan PDB juga meningkat, bahkan Nomura Asia memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,7 persen yoy dari sebelumnya 4,9 persen yoy untuk tahun 2025 akibat dampak tarif resiprokal AS.
Selain itu, Audi menyampaikan tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, bahkan sempat menyentuh level Rp16.700 pada 4 April.
Dari sisi regulator, Audi menyampaikan BEI diperkirakan akan melakukan trading halt jika terjadi tekanan pasar yang cukup besar pada 8 April. Selain itu, implementasi intraday short selling dapat ditunda, seperti yang terjadi di Taiwan saat pasar terkoreksi sekitar 10 persen, dengan membatasi short selling.
Dalam kondisi ini, Audi menyampaikan investor disarankan untuk mengambil langkah defensif dengan wait and see hingga rilis kinerja kuartal I 2025, dan jika kinerja emiten, terutama blue chip, tetap resilient, dapat mulai mengakumulasi saham dengan harga yang terdiskon.
另请阅读:
Kemudian, Audi menyampaikan investor dapat melakukan diversifikasi aset ke instrumen bebas risiko dan safe havens seperti obligasi pemerintah dan emas.
"Jika sudah ada posisi, khususnya di saham big caps maka dapat HOLD dengan menantikan momentum averaging down, serta hindari emiten dengan hutang dalam dolar AS besar (>50 persen total hutang), terlebih dengan DER >1x," tuturnya.
Hingga saat ini, Audi menyampaikan sektor defensif diperkirakan masih akan cukup resilien dalam pergerakan harga sahamnya, terutama di luar sektor perbankan untuk akumulasi jangka panjang seperti sektor-sektor yang disarankan untuk diperhatikan meliputi kesehatan, utilitas, dan konsumer non-siklikal.