Tantangan ke Depan: Antara Pertumbuhan dan Stabilitas

12 November 2025, 11:00 | Tim Redaksi
Tantangan ke Depan: Antara Pertumbuhan dan Stabilitas
Foto karya Luthfiah VOI

JAKARTA - Purbaya Yudi Sadewa menyatakan komitmennya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% seperti yang diidamkan Prabowo. Meski diakui banyak ekonom menilai sebagai target yang sangat ambisius. Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan pasar dan investor bahwa di balik gaya dan kebijakannya yang tidak konvensional, ia tetap akan mempertahankan disiplin fiskal.

Pertanyaan tentang komitmennya terhadap batas defisit anggaran 3% dari PDB aturan yang dianggap sakral pasca-krisis 1998 masih mengemuka. Purbaya menjawabnya dengan singkat, "Saya adalah ahli fiskal, jadi saya sepenuhnya memahami seperti apa kebijakan fiskal yang prudent (bijaksana)" ujarnya meyakinkan.

Saat ini Bunga Bank menimbulkan kegairahan orang untuk menarik orang untuk berusaha dan salurkan uang untuk belanja. Pendekatan yang bertolak belakang dengan pendahulunya, mendorong gebrakan- gebrakan Purbaya menjadi warna baru dengan mashap ekonomainya yang jauh dari kritik kermain aman dibadingg penggantinya

Gaya ceplos ceplos dianggap tidak layak karna ceplas ceplos dengan bicara. Sempat mengundang kritik anggata DPR. Apalagi dibandingkan gaya komunikasi Menteri sebelumnya yang lebih formal. Namun gaya komunkasi Purbaya bertolak belakang dengan gaya meteri Sebelumnya, namun publik tidak mempermasalahkan gaya komuniasi itu tapi pada kinerjanya

Kebijakan Purbaya untuk menyalurkan 200 triyun dana yang mengendap di BI tanpa disalurkan, sempat menibulkan kritik dan protes pemilik dana, sebagai misal kritik dari pegacara kawakan Hotman Paris Hutape yang mengaku uangnya jadi berkurang karena peroleehan bunga depositonya berkurang. Ia pun berniat mengalihkan depositonya untuk membeli tanah dan mengalihkan membeli properti di Bali.

Semenara rekan pengacara lain, Dualifa Yumara, menanggapi protes Hotman Paris, sebagai dampak dari kebijakan Purbaya. "Itu tandanya punya dampak bagi perekonomian dan kebijakan itu disenangi dan didukung publik, dengan begitu karena kemudian mendapat dukungan, karena menciptakan tumbuh peekonomian" katanya.

Kebijakan yang Purbaya lakukan itu hanya mengesernya dana dari BI dipindahkan ke Himbara yang paling penting menurut Purbaya adalah langkah paling sederhana kini bunga bank jadi turun. Dia mengaku belum melakukan langkah atau kebijakan tertentu dengah melakukan misal dibanjiri likuiditas, pembalikan arah indek kepercayaan publik kembali, itu indek kepercayaan pemeritah yang semula skornya meningkat, itu menurutnya belum perbaikan, belanja diserap.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: dok. VOI)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: dok. VOI)

Soal gaya bicara Purbaya ia meyakinkan dia tidak pergerak sendiri tetapi atas suruhan Presiden. Sehingga semakin meyakikan langkah- langkahnya didukung presiden. Persepsi Positif kinerja presiden tidak terlalu maik tetepi tidak turun dan itu Kerja dari purbaya.

Sejak dilantik menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani, nama Purbaya Yudhis Sadewa langsung mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena latar belakang ekonominya yang mumpuni, tetapi juga karena gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, lugas, dan berani menabrak pakem birokrasi yang kaku. Ia dikenal sebagai sosok yang “koboi” — berani ambil risiko, tak takut beda pendapat, dan selalu menuntut hasil cepat.

Dalam waktu singkat, sejumlah kebijakannya mengguncang ruang publik dan menimbulkan perdebatan sengit. Ada yang menyebutnya “angin segar reformasi fiskal”, tapi ada pula yang menilai langkah-langkahnya terlalu agresif dan berpotensi menimbulkan efek jangka panjang yang tak terduga.

Langka berani yang diambil Purbaya dimasa awal menjabat adalah menyuntikan Suntikan Rp200 Triliun ke Bank Himbara: Yang Sempat menjadi perdebatan publik dorongan atau bahaya?

Purbaya membuka langkah besar dengan menyuntikkan Rp200 triliun ke bank-bank milik negara (Himbara) untuk memperkuat likuiditas perbankan. Tujuannya jelas, menjaga peredaran uang di tengah ketatnya kondisi global dan mendorong pembiayaan UMKM serta proyek strategis nasional.

Kebijakan ini dianggap mampu menggerakkan sektor riil dengan cepat, menahan potensi kredit macet, dan mendorong bank agar lebih agresif menyalurkan pinjaman ke sektor produktif.

Namun, para ekonom konservatif menilai langkah ini berisiko tinggi. “Kalau pengawasan lemah, dana segitu besar bisa tersedot ke konglomerat lama, bukan ke UMKM,” ujar seorang pengamat fiskal. Ada juga yang menilai ini sinyal bahwa pemerintah mulai ‘menggadaikan’ prinsip kehati-hatian fiskal.

Taufik Ahmad peneliti Indef menyatakan ada kekhawatirkan dibank bank Himbara, jika dipaksakan menyalurkan kredit tetapi kelayakan tidak ada, akan membahayakan. Tetapi sampai kemarin tidak terjadi backfire

Moratorium Kenaikan Cukai Rokok Demi Menahan Laju Pengangguran

Kebijakan berikutnya mengejutkan banyak pihak, Sebelumnnya banyak pihak mengusulkan kenaikan cukai rokok untuk menanggulangi beban pajak atau penurunan pendapatan. Namun Menteri Purbaya mengambil langkah berani untuk moratorium kenaikan cukai rokok.

Cukai Rokok (Antara)
Cukai Rokok (Antara)

Purbaya beralasan, industri tembakau menyerap jutaan tenaga kerja dari petani, buruh, hingga pedagang kecil yang selama ini tertekan oleh kenaikan cukai bertahun-tahun.

Langkah ini disambut hangat oleh petani tembakau, buruh pabrik, dan pemerintah daerah penghasil tembakau. Mereka merasa akhirnya ada menteri yang berpihak pada ekonomi rakyat bawah. Sebaliknya, kelompok kesehatan publik menilai kebijakan ini kemunduran besar dalam upaya menekan konsumsi rokok. Mereka menuduh Purbaya “lebih pro-industri daripada kesehatan publik.”

Satu lagi kebijakan Purbaya yang disoroti dan dikeluhkan banyak pihak, system bemberlakuan Reformasi Sistem Pajak lewat alikasi Coretax yang dinilai banyak masal, Namun Purbaya menanggapi keluhan itu dengan membawa ahli IT dari kampuarnya ITB untuk meneliti aplikasi itu, permasalahannya aplikasi tersebut masih kewenangan dari pihak kontraktor LG, tetapi pihaknya telah memberi masukan perbaikan Lembaga itu.

Perburuan Penunggak Pajak

Purbaya juga menggagas pembenahan sistem Coretax dengan menggandeng ahli independen — Bukan hanya konsultan besar. Ia ingin sistem perpajakan transparan, efisien, dan tahan manipulasi. Bersamaan dengan itu, ia dalam beberapa kesempatan menyatakan sedang memburu 200 penunggak pajak besar yang selama ini lolos dari jerat hukum.

Publik menyambut langkah ini sebagai bentuk keberanian melawan oligarki pajak. Transparansi dan penegakan hukum fiskal dianggap kembali hidup. Namun, sebagian pihak menilai gaya konfrontatif Purbaya bisa menimbulkan ketegangan dengan pelaku usaha besar. “Kalau dikejar tanpa komunikasi, investasi bisa kabur,” kata seorang pengusaha papan atas yang enggan disebut namanya.

Salah satu kebijakan paling berani adalah penarikan anggaran dari lembaga-lembaga yang dianggap tidak efisien. Ia menyebut ada “anggaran tidur” ratusan triliun yang tidak memberi dampak ekonomi nyata.

Langkah ini diapresiasi publik karena menunjukkan sikap tegas terhadati pemborosan APBN. Uang negara harus bekerja, bukan sekadar disimpan di kas lembaga. Namun, kritik lembaga-lembaga yang dipotong anggarannya merasa tidak dilibatkan dalam evaluasi. Beberapa program sosial dan riset juga ikut terhambat, menimbulkan protes dari akademisi dan LSM.

Setelah mengalami protes sejumlah Kepala Daerah soal Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp693 Triliun ia beralasan Untuk menyeimbangkan pembangunan, Purbaya menambah transfer ke daerah menjadi Rp693 triliun dan itu diklaim terbesar dalam sejarah. Ia beralasan, daerah harus diberi ruang fiskal lebih besar agar tidak terus tergantung pada pusat.

Kebijakan ini disambut positif oleh kepala daerah. Banyak yang menilai inilah “angin baru desentralisasi fiskal.”. Namun, pengamat menilai peningkatan transfer tanpa perbaikan tata kelola berisiko menimbulkan korupsi daerah baru. “Uangnya besar, tapi kemampuan serap daerah masih lemah,” kata seorang ekonom UI.

Purbaya juga menaruh perhatian besar pada pemberantasan impor tekstil ilegal asal Tiongkok. Ia bahkan turun langsung ke pelabuhan dan memerintahkan pengetatan pengawasan.

Apapun pandangan terhadapnya, satu hal pasti: Purbaya mengubah wajah Kementerian Keuangan menjadi lebih berani dan transparan. Ia bukan sekadar teknokrat, tapi reformis dengan gaya koboi — dan Indonesia sedang menunggu, apakah tembakan kebijakan fiskalnya mengenai sasaran, atau justru menimbulkan riak yang lebih besar di masa depan.

Bagikan: