JAKARTA - AI di China tidak lagi berhenti di layar ponsel atau ruang rapat perusahaan teknologi. Di World Intelligence Expo 2026 di Tianjin, teknologi itu tampil sebagai cermin pemeriksa kesehatan, lengan robot pembuat crepe, hingga robot yang bermain Go dan mendongeng untuk anak-anak.
Melansir laporan China Daily, Selasa, 2 Juni, pameran empat hari yang ditutup pada Minggu itu menghadirkan lebih dari 700 peserta. Mereka memamerkan teknologi, produk, dan penerapan terbaru kecerdasan buatan atau AI dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaku industri di pameran menyebut AI makin cepat masuk ke pendidikan, layanan publik, manufaktur, dan urusan rumah tangga. Teknologi ini dipakai untuk mempercepat kerja, memangkas tugas berulang, dan membuka model bisnis baru.
Salah satu yang menarik perhatian adalah iFlytek AI Board, papan tulis pintar buatan iFlytek Co Ltd. Perusahaan ini dikenal sebagai pemain besar China di bidang pengenalan suara dan teknologi AI.
Papan itu menggabungkan papan kapur biasa dengan layar elektronik. Saat guru menulis rumus matematika, tulisan itu langsung berubah menjadi data digital. Konsep yang rumit bisa ditampilkan dalam bentuk visual yang lebih mudah dipahami.
“AI mengubah pendidikan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Dong Bin, Wakil Manajer Umum Pusat Pemasaran Merek iFlytek.
BACA JUGA:
Menurut Dong, AI membantu guru lepas dari tugas berulang sehingga bisa lebih fokus pada riset pendidikan. Siswa juga diharapkan tidak tenggelam dalam latihan berlebihan dan punya waktu untuk meningkatkan kemampuan diri.
Menurut data yang dikutip China Daily, iFlytek telah menyediakan produk dan solusi pendidikan pintar untuk lebih dari 50.000 sekolah di China. Jumlah penerimanya mencapai lebih dari 130 juta guru dan siswa.
Di zona kecerdasan berwujud, yaitu AI yang dipasang pada benda fisik seperti robot dan mesin, berbagai robot menunjukkan kemampuan mereka. Ada yang memasak, memberi layanan pijat, mengisi bahan bakar kendaraan, hingga bermain musik.
Salah satunya robot polisi pintar Aimoga. Robot lalu lintas beroda ini mampu menggerakkan tangan seperti petugas polisi dan memperagakan cara mengatur kendaraan di jalan.
Robot itu sudah digunakan di beberapa kota China, termasuk Hefei dan Wuhu di Provinsi Anhui, serta Changzhou di Provinsi Jiangsu. Fungsinya sebagai asisten bagi polisi lalu lintas.
Di balik banyaknya contoh penggunaan AI itu, ada dorongan kebijakan negara. China telah menerbitkan rencana pengembangan AI generasi baru sejak 2017. Tahun lalu, China juga merilis pedoman untuk memperkuat inisiatif AI Plus, yakni program untuk memasukkan AI ke berbagai sektor ekonomi dan layanan publik.
Dalam Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026–2030, China mendorong pelaksanaan penuh inisiatif tersebut untuk mempercepat pembangunan berbasis AI.
Menurut Administrasi Data Nasional, China kini menjadi pemegang paten AI terbesar di dunia, sekitar 60 persen dari total global. Nilai industri inti AI China juga telah melampaui 1,2 triliun yuan atau sekitar 177,36 miliar dolar AS.
“AI mempercepat integrasi mendalam dengan berbagai industri, meningkatkan sektor tradisional, serta mendorong terobosan dalam produktivitas dan efisiensi,” kata Chen Jiachang, Wakil Menteri Sains dan Teknologi China.
Chen memperkirakan teknologi seperti kecerdasan berwujud, AI yang meniru cara kerja otak, dan antarmuka otak-komputer akan membuka area pertumbuhan dan model bisnis baru. Antarmuka otak-komputer adalah teknologi yang memungkinkan otak manusia terhubung dengan perangkat komputer atau mesin.