JAKARTA — Koalisi raksasa teknologi global, termasuk Apple, Google, dan Microsoft, resmi bergabung dalam inisiatif baru bernama “Project Glasswing” untuk menghadapi ancaman serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) yang semakin kompleks.
Proyek ini dipimpin oleh Anthropic, pengembang model AI Claude, dan melibatkan berbagai pemain besar lintas industri seperti Amazon Web Services, Nvidia, Cisco, hingga Linux Foundation.
BACA JUGA:
Inisiatif ini lahir dari kekhawatiran bahwa AI kini tidak hanya menjadi alat pertahanan, tetapi juga senjata baru bagi peretas. Anthropic mengungkap bahwa model eksperimental mereka, Claude Mythos Preview, mampu menemukan ribuan celah keamanan kritis di berbagai sistem operasi dan browser.
“AI kini bisa menjadi peneliti keamanan terbaik—atau penyerang paling berbahaya,” demikian peringatan dari Anthropic dalam pengumumannya.
Dalam pengujian internal, model tersebut bahkan berhasil mengidentifikasi kerentanan yang lolos dari puluhan tahun audit manusia dan jutaan pengujian otomatis. Salah satu temuan paling mencolok adalah celah keamanan berusia 27 tahun di OpenBSD, sistem yang banyak digunakan dalam firewall dan infrastruktur kritis.
Kerentanan tersebut memungkinkan peretas menjatuhkan sistem dari jarak jauh hanya dengan koneksi sederhana—sebuah skenario yang terdengar seperti plot film hacker, tapi ini real.
Melalui Project Glasswing, perusahaan-perusahaan yang terlibat akan menggunakan kemampuan AI ini untuk memperkuat sistem mereka sendiri sebelum teknologi serupa jatuh ke tangan pihak yang salah. Selain itu, hasil temuan juga akan dibagikan ke komunitas keamanan siber global.
Lebih dari 40 organisasi yang mengelola infrastruktur perangkat lunak kritis juga akan mendapatkan akses ke teknologi ini. Anthropic bahkan menggelontorkan hingga 100 juta dolar AS dalam bentuk kredit penggunaan, serta donasi tambahan sebesar 4 juta dolar AS untuk organisasi keamanan open-source.
Secara strategis, langkah ini mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap keamanan digital: dari reaktif menjadi proaktif. Jika sebelumnya celah keamanan ditemukan setelah diserang, kini AI digunakan untuk “memburu” kelemahan sebelum dieksploitasi.
Bagi pengguna umum, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Namun, ke depan pembaruan sistem seperti iOS atau macOS berpotensi menjadi lebih besar dan lebih sering, karena perusahaan berlomba menutup celah yang ditemukan AI.
Ini bukan kali pertama Apple mengambil langkah antisipatif terhadap ancaman teknologi masa depan. Pada 2024, perusahaan tersebut memperkenalkan protokol kriptografi baru PQ3 untuk iMessage sebagai bagian dari strategi menghadapi era komputasi kuantum.
Project Glasswing berada di jalur yang sama: bukan sekadar merespons ancaman hari ini, tetapi mempersiapkan perang siber masa depan yang bahkan belum sepenuhnya terjadi.
Anthropic menegaskan urgensi situasi ini dengan pernyataan tegas: “Kita harus bertindak sekarang.”