JAKARTA - China melihat lonjakan token AI sebagai peluang ekonomi baru. Di tengah ledakan industri kecerdasan buatan, negara itu mulai mengubah listrik menjadi daya komputasi, lalu menjualnya ke pasar global dalam bentuk layanan AI.
Kepala National Data Administration Liu Liehong seperti dikutip dari China Daily, Rabu, 25 Maret, mengatakan konsumsi harian token di China hingga Maret telah melampaui 140 triliun. Angka itu naik lebih dari 1.000 kali lipat dibanding 100 miliar pada awal 2024, dan lebih dari 40 persen lebih tinggi daripada 100 triliun pada akhir tahun lalu.
China Daily melaporkan, token merupakan unit data kecil yang digunakan model AI untuk membaca dan menghasilkan teks. Menurut Liu, lonjakan itu menunjukkan industri AI China berkembang cepat, dari fungsi percakapan dasar ke sistem yang lebih canggih untuk mengambil keputusan dan menjalankan tugas.
Liu menyampaikan hal itu saat mengumumkan KTT Digital China ke-9 yang akan digelar pada 29-30 April di Fuzhou, Fujian. Sekitar 400 perusahaan, termasuk China Southern Power Grid dan Alibaba Group, akan memamerkan teknologi dan produk terbaru mereka.
BACA JUGA:
Pemerintah China juga menyiapkan sistem nasional untuk pendaftaran hak kepemilikan data, mempercepat pembentukan pasar data nasional, dan memperkuat infrastruktur data. Dalam kerangka itu, ekspor token mulai dilihat sebagai arah baru ekonomi digital China.
Nilainya juga jauh lebih tinggi. Jika listrik mentah yang diekspor hanya bernilai sekitar 0,5 yuan atau US$0,07 per kilowatt-jam, nilai yang sama bisa meningkat hingga 22 kali lipat saat diubah menjadi layanan pemrosesan AI.
Peneliti Beijing Academy of Social Sciences Wang Peng mengatakan model ini membuka akses lebih luas bagi usaha kecil, pengembang independen, dan pengguna di pasar berkembang untuk memakai alat AI dengan harga lebih terjangkau.
Masih dari China Daily, menurut Shi Yuxia dari China Academy of Information and Communications Technology, keunggulan token China bukan hanya pada harga listrik, tetapi juga pada biaya energi yang lebih rendah, kemampuan AI yang meningkat, dan rantai pasok yang kuat.