Bagikan:

JAKARTA – Pemerintah China mengeluarkan peringatan terkait potensi risiko keamanan dari OpenClaw, agen kecerdasan buatan open-source yang popularitasnya melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Otoritas menilai penggunaan OpenClaw tanpa konfigurasi keamanan yang memadai dapat membuka celah serangan siber dan kebocoran data.

Mengutip laporan Reuters, Kamis 5 Februari, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China menyatakan telah menemukan sejumlah kasus di mana pengguna menjalankan OpenClaw dengan pengaturan keamanan yang lemah.

“Kami menemukan contoh penggunaan OpenClaw dengan konfigurasi keamanan yang tidak memadai,” kata kementerian tersebut, seraya menekankan perlunya langkah pencegahan yang lebih ketat.

Peringatan ini tidak berarti larangan penuh terhadap OpenClaw. Namun, pemerintah China mengingatkan organisasi dan perusahaan yang mengadopsi platform tersebut agar melakukan audit menyeluruh terhadap paparan jaringan publik, serta menerapkan autentikasi identitas dan kontrol akses yang kuat.

OpenClaw pertama kali diperkenalkan pada November 2026 dan dengan cepat menjadi fenomena global. Menurut blog sang pencipta, Peter Steinberger, proyek ini telah mengumpulkan lebih dari 100.000 bintang di repositori kode GitHub dan menarik sekitar 2 juta pengunjung hanya dalam satu pekan.

Popularitas OpenClaw juga meningkat pesat di kalangan penggemar teknologi di China. Sejumlah penyedia layanan cloud berlomba-lomba menawarkan solusi hosting bagi platform ini, memungkinkan pengguna menjalankan OpenClaw di server jarak jauh tanpa harus menginstalnya di perangkat pribadi.

Beberapa penyedia layanan cloud terbesar di China, termasuk Alicloud milik Alibaba, Tencent Cloud, dan Baidu, telah meluncurkan layanan penyewaan server khusus untuk menjalankan OpenClaw. Informasi tersebut tercantum di halaman panduan deployment OpenClaw milik masing-masing perusahaan.

Namun, kekhawatiran soal keamanan makin menguat setelah munculnya jejaring sosial baru bernama Moltbook, yang diklaim dibuat khusus untuk bot OpenClaw. Perusahaan keamanan siber Wiz mengungkapkan pada Senin 2 Februari bahwa platform tersebut memiliki celah besar yang menyebabkan data pribadi ribuan orang terekspos.

Dengan peringatan ini, pemerintah China menegaskan bahwa antusiasme terhadap teknologi AI open-source harus diimbangi dengan kesadaran keamanan siber yang tinggi. Tanpa pengamanan yang tepat, inovasi cepat seperti OpenClaw justru berpotensi menimbulkan risiko serius bagi pengguna dan organisasi.