Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Digital berhasil mengkurasi dan mengembangkan 10 startup lokal, melalui Program Garuda Spark di Bandung dalam tiga bulan pertama pelaksanaannya.

President of Alkademi Foundation, Dyah R. Helmi, menilai Garuda Spark membuka akses pembelajaran digital yang luas bagi warga Bandung dan sekitarnya, khususnya generasi muda yang ingin terjun ke industri digital.

“Dengan Garuda Spark, masyarakat bisa belajar bisnis digital dan ekosistem global kapan pun. Semua terbuka dan gratis untuk warga Bandung,” ujar Helmi dalam siaran resmi Komdigi dikutip Selasa, 6 Januari.

Alkademi bersama mitra global mencatat 15.749 aplikasi dibuat oleh siswa SMK di Jawa Barat dalam satu rangkaian kegiatan dan memperoleh pengakuan Guinness World Record.

Even komunitas akhir tahun diikuti sekitar 12.000 peserta daring. Sejumlah startup juga mulai menyusun sustainability report sebagai strategi bertahan dan tumbuh.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan Garuda Spark dirancang sebagai jawaban atas kompleksitas tantangan industri startup.

“Di Bandung, Garuda Spark sudah berjalan tiga bulan. Sudah ada 10 startup yang dibantu, dikurasi, dan dilahirkan bersama oleh Kemkomdigi, Startup Bandung, Alkademi, dan mitra internasional seperti NUS Singapura,” ujar Meutya.

Menurut Meutya, kekuatan utama Garuda Spark terletak pada pendekatan ekosistem yang mempertemukan startup, investor, komunitas, dan pemerintah dalam satu ruang kolaborasi.

“Startup lokal perlu ruang untuk saling belajar dan tumbuh. Kolaborasi ini memberi kepercayaan diri agar mereka bisa bertahan dan berkembang,” katanya.