JAKARTA - Meta baru saja memperkenalkan kacamata pintar terbaru mereka, Meta Ray-Ban Display, yang dilengkapi layar internal. Namun, meski banyak pihak menyebut perangkat ini sebagai pesaing Apple atau bahkan pendahulu “Apple Glasses”, kenyataannya tidak demikian.
Apple sudah lebih dulu memperkenalkan Vision Pro pada ajang WWDC 2023 sebagai perangkat mixed reality (realitas campuran) yang dijuluki “spatial computing”. Vision Pro menampilkan perangkat lunak ke dalam lingkungan nyata melalui kombinasi kamera dan dua layar mini.
Ke depan, Vision Pro bersama sistem operasi visionOS diprediksi akan berevolusi menjadi Apple Glasses dengan lensa transparan—sebuah perangkat AR (augmented reality) sejati. Apa yang ditawarkan Meta kali ini jelas masih jauh dari itu.
BACA JUGA:
Pasar “AI Glasses”
Meta menggambarkan Ray-Ban Display sebagai “kacamata AI”, bukan AR atau perangkat spatial computing. Produk ini merupakan lanjutan dari Ray-Ban Meta yang sudah lebih dulu hadir dengan kamera dan speaker.
Apple tidak menjual produk serupa dan tampaknya belum tertarik menyainginya dalam waktu dekat. Meski sempat muncul rumor soal Apple “AI Glasses” pada 2026, kabar itu dianggap belum punya dasar kuat. Apalagi, bisnis kacamata pintar Meta juga belum bisa disebut sukses besar, dengan penjualan sekitar dua juta unit dari Oktober 2023 hingga Februari 2025.
Meta berusaha menampilkan kacamata ini sebagai perangkat ringan dan tak mencolok. Namun, banyak yang menilai keberadaan kamera di wajah justru terasa invasif dan mengganggu privasi.
Bukan Penantang iPhone Apalagi Vision Pro
Ray-Ban Display sejatinya hanya menambahkan tampilan kecil pada kacamata dengan fitur speaker dan kamera. Meski terdengar menarik, fungsinya tidak jauh berbeda dengan perangkat yang sudah ada, bahkan terkesan redundan bagi pengguna Apple Watch dan AirPods.
Meta berambisi menjadikan kacamata ini sebagai perangkat “AI-first” dengan aplikasi pihak ketiga yang berjalan langsung, bukan sekadar aksesoris smartphone. Namun, sejarah menunjukkan bahwa upaya menghadirkan perangkat pengganti smartphone berbasis AI kerap gagal menembus pasar.
Sementara itu, Apple Vision Pro bukan sekadar penampil notifikasi, melainkan komputer mandiri yang bisa dipakai memperluas pengalaman menggunakan Mac dan perangkat Apple lainnya. Vision Pro memposisikan diri untuk memperkaya antarmuka, bukan mengganti smartphone.
Jalan Panjang Menuju Apple Glasses
Meta Ray-Ban Display lebih menyerupai upaya menyalin elemen antarmuka smartphone ke layar kecil di depan mata, namun belum mampu menjawab pertanyaan mendasar: untuk apa?
Sebaliknya, arah pengembangan Apple jelas berbeda. Visi Apple adalah menghadirkan Apple Glasses sebagai perangkat AR penuh, dengan lensa transparan yang mampu memproyeksikan widget, jendela, dan objek digital ke dunia nyata. Kacamata itu nantinya tak berdiri sendiri, melainkan bekerja dalam ekosistem Apple yang luas—dari iPhone, iPad, Home Hub, hingga Mac.
Jika benar terwujud, Apple Glasses akan menjadi perangkat yang tidak hanya berguna, tetapi juga menarik untuk dipakai sehari-hari.
Meta memang menghadirkan produk yang “menarik” dengan Ray-Ban Display, tapi belum tentu “berguna”. Perangkat ini masih jauh dari level Apple Vision Pro, apalagi dari visi jangka panjang Apple Glasses.
Sambil menunggu terwujudnya kacamata AR Apple di masa depan, para pengguna Apple masih bisa menikmati bentuk augmentasi realitas lewat kombinasi AirPods Pro dan Apple Watch—dua perangkat yang sudah terbukti fungsional, privat, dan aman.