JAKARTA - Pemilik SpaceX dan Tesla, Elon Musk, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan keamanan Bitcoin (BTC) di tengah perkembangan teknologi quantum computing.
Dalam sebuah postingannya di X, Musk mempertanyakan ke Grok kemungkinan algoritma SHA-256—yang digunakan dalam sistem keamanan blockchain Bitcoin—bisa dibobol oleh komputasi kuantum.
Menjawab pertanyaan tersebut, Grok menyampaikan bahwa berdasarkan penilaian dari lembaga seperti NIST, IBM, dan para pakar keamanan siber pada tahun 2025, kemungkinan SHA-256 berhasil dibobol oleh komputasi kuantum sangat kecil.
“Berdasarkan penilaian tahun 2025 dari NIST, IBM, dan survei para ahli, kemungkinan bahwa komputasi kuantum dapat membobol SHA-256,” jawab Grok kepada Musk.
Merespons kondisi ini, Indodax selaku platform pertukaran kripto di Indonesia mengatakan, saat ini, tidak ada ancaman langsung dari quantum computing terhadap Bitcoin.
“Namun, para ahli memperkirakan bahwa ancaman tersebut dapat muncul dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, tergantung pada kecepatan perkembangan teknologi,” jelas Indodax di blognya.
BACA JUGA:
Sejumlah pengembang blockchain dan ahli kriptografi juga dikatakan telah mulai menyiapkan sistem keamanan baru berbasis post-quantum cryptography, untuk mengantisipasi kemungkinan serangan dari komputer kuantum di masa depan.
“Jika teknologi ini (kuantum) mencapai skala besar, kemampuan untuk memecahkan algoritma kriptografi yang kompleks akan menjadi ancaman serius bagi seluruh sistem digital,” pungkasnya.
Selain Bitcoin, perusahaan menambahkan, berbagai aset kripto lain yang menggunakan sistem enkripsi konvensional juga berada dalam risiko yang sama.