JAKARTA - Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran serta keputusan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat yang kembali menahan suku bunga.
Saat ini pada Kamis, 19 Juni sekitar pukul 10:00 WIB, BTC diperdagangkan di sekitar level 104.250 dolar AS atau Rp1,7 miliar, turun sekitar 5% dari rekor tertingginya sebulan lalu.
Sementara itu, data Tokocrypto melihat Ethereum dan altcoin lain mencatat kinerja datar, dan sentimen investor masih menunggu sinyal dari The Fed mengenai arah kebijakan moneternya ke depan.
Menurut Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, pasar kripto saat ini berada dalam fase konsolidasi, di mana Bitcoin sedang menguji zona support di 104.000 dolar AS atau Rp1,7 miliar.
“Ini adalah fase menunggu arah baru, baik dari kebijakan The Fed maupun perkembangan geopolitik,” kata Fyqieh dalam pernyataan yang diterima.
Menurutnya, jika The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25% hingga 4,50% hingga bulan Juli menjelang FOMC selanjutnya, ini bisa memberi sinyal dovish, Bitcoin berpotensi kembali menguat menuju 110.000 dolar AS (Rp1,8 miliar).
Meski disebut sebagai aset berisiko, data historis menunjukkan bahwa Bitcoin cenderung stabil bahkan menguat dalam masa konflik bersenjata besar.
BACA JUGA:
“Dalam 10 tahun terakhir, berbagai peristiwa geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina (2022), konflik Israel-Gaza (2023), hingga eskalasi terbaru Israel-Iran (2025), tidak membuat harga Bitcoin jatuh dalam jangka panjang,” jelasnya.
Fyqieh menambahkan, “konflik geopolitik meningkatkan ekspektasi inflasi global melalui lonjakan belanja fiskal, gangguan rantai pasok, dan kenaikan harga komoditas. Dalam jangka panjang, faktor-faktor ini cenderung menguntungkan Bitcoin.”
Namun, Fyiqeh tetap memperingatkan bahwa BTC tetap sensitif terhadap reaksi awal pasar terhadap perang, dengan kemungkinan tekanan jual sesaat setelah konflik pecah.