JAKARTA – Startup kecerdasan buatan (AI) China, Manus, pada Kamis 20 Maret mendaftarkan asisten AI versi domestiknya dan untuk pertama kalinya tampil dalam siaran media pemerintah. Langkah ini menunjukkan strategi Beijing dalam mendukung perusahaan AI lokal yang telah mendapatkan pengakuan di luar negeri.
Sejak DeepSeek mengejutkan Silicon Valley dengan merilis model AI yang setara dengan pesaingnya di AS, tetapi dikembangkan dengan biaya lebih rendah, para investor China mulai mencari startup domestik berikutnya yang berpotensi mengubah tatanan teknologi global.
Manus menjadi salah satu kandidat yang menarik perhatian. Beberapa minggu lalu, perusahaan ini viral di platform X setelah merilis apa yang diklaim sebagai agen AI umum pertama di dunia. Teknologi ini mampu mengambil keputusan dan melaksanakan tugas secara mandiri dengan lebih sedikit perintah dibandingkan chatbot AI seperti ChatGPT dan DeepSeek.
Pemerintah Beijing kini menunjukkan tanda-tanda dukungan terhadap peluncuran Manus di dalam negeri, mirip dengan respons terhadap kesuksesan DeepSeek. Stasiun televisi pemerintah CCTV pada Kamis menayangkan liputan khusus tentang perbedaan antara agen AI Manus dan chatbot AI DeepSeek.
Pada hari yang sama, pemerintah kota Beijing mengumumkan bahwa versi China dari produk AI asisten sebelumnya milik Manus, yang disebut Monica, telah menyelesaikan proses pendaftaran yang diwajibkan untuk aplikasi AI generatif di China. Ini menjadi langkah penting dalam memenuhi peraturan yang ketat terkait AI di negara tersebut.
Regulator China mewajibkan semua aplikasi AI generatif yang dirilis di dalam negeri untuk mematuhi aturan ketat, yang sebagian dirancang agar teknologi ini tidak menghasilkan konten yang dianggap sensitif atau merugikan oleh Beijing.
Pekan lalu, Manus mengumumkan kemitraan strategis dengan tim di balik model AI Qwen milik raksasa teknologi Alibaba.
Langkah ini dapat mempercepat peluncuran agen AI Manus di dalam negeri. Saat ini, produk tersebut hanya tersedia bagi pengguna dengan kode undangan dan memiliki daftar tunggu sebanyak 2 juta orang, menurut keterangan startup tersebut.