JAKARTA – Porsche menghadapi tekanan besar di pasar China, penjualan merek asal Jerman tersebut turun 28 persen menjadi 56.887 unit pada 2024. Mereka juga mengakui bahwa mobil-mobil dari China memang jadi ancaman serius.
Tren negatif Porsche hingga September 2025 masih berlanjut dengan pengiriman kembali menurun 26 persen. Untuk merespons kondisi ini, Porsche menyiapkan strategi baru bertajuk "Merebut Kembali China”, meski perusahaan mengakui bahwa mencapai kembali volume penjualan sebelumnya bukanlah target yang realistis.
Dalam wawancara dengan Automobilwoche, CEO Porsche China Alexander Pollich, menyampaikan bahwa persaingan di industri otomotif China kini sangat ketat. Ia mengingat kesuksesan Taycan saat diluncurkan, tetapi kemudian banjir sedan listrik di segmen harga yang sama sekali berbeda.
“Laju inovasi di China sangat mencengangkan, begitu pula dengan beragam produk yang ditawarkan, dan strategi harga serta pemasaran tampaknya berubah setiap hari," ujar Alexander Pollich, dilansir dari Motor1, Jumat, 12 Desember.
"Tiba-tiba, Anda dihadapkan dengan banyak sekali pelaku pasar. Dan mobil-mobil tersebut menarik bagi selera pelanggan, jujur saja. Tetapi kami siap menghadapi tantangan ini," tambahnya.
Penurunan penjualan Porsche tidak hanya dipengaruhi oleh meningkatnya persaingan dari produsen kendaraan listrik (EV) lokal berharga agresif. Tetapi juga oleh kebijakan baru terkait pajak barang mewah.
Ambang batas pajak yang sejak 2016 berada di angka 1,3 juta yuan diturunkan menjadi 900 ribu yuan mulai 20 Juli 2025. Kebijakan tersebut membuat sejumlah model Porsche masuk kategori harga yang lebih tinggi dan semakin sulit dijangkau konsumen.
BACA JUGA:
Saat ini, harga jual rata-rata Porsche di China berada sedikit di bawah 1 juta yuan. Kondisi pasar yang menantang membuat Porsche mengurangi jumlah dealer dari 150 gerai pada 2024 menjadi 120, dan jumlahnya diperkirakan turun lagi hingga hanya 80 gerai pada akhir 2026.
Dealer yang tersisa kini menanti SUV bermesin pembakaran internal yang baru diumumkan. Porsche mengonfirmasi bahwa Macan generasi pertama akan digantikan oleh model baru berbahan bakar bensin, sementara SUV tiga baris yang awalnya dirancang sebagai EV justru akan diperkenalkan terlebih dahulu dengan mesin bensin.
Meski begitu, kendaraan listrik tetap menjadi bagian penting dari strategi Porsche di China. Cayenne Electric akan diproduksi lokal, sementara 718 EV juga akan hadir dengan karakter yang diklaim unik di China dalam hal sportivitas. Pollich tidak memberi penjelasan lebih jauh, namun Boxster dan Cayman generasi berikutnya tetap akan menawarkan varian bermesin bensin untuk tipe tertinggi.
Pollich menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode yang penuh tantangan, terutama karena SUV bensin terbaru Porsche tidak akan meluncur sebelum akhir dekade. Ia juga menegaskan bahwa Porsche tidak berencana meluncurkan merek kedua di China, dan menolak opsi perakitan lokal melalui sistem SKD atau CKD karena faktor biaya.
Porsche bukan satu-satunya yang mengalami tekanan. BMW Group (termasuk MINI) mencatat penurunan 13 persen, Mercedes turun 7 persen, dan Audi terkontraksi 10,9 persen. Persaingan kini dipicu oleh kuatnya produsen lokal China, yang menawarkan harga lebih kompetitif, khususnya di segmen kendaraan listrik.