JAKARTA – YASA, pemimpin global dalam desain dan produksi motor fluks aksial, kembali menggemparkan industri otomotif. Perusahaan tersebut baru-baru ini mengumumkan keberhasilannya memecahkan rekor dunia tidak resmi untuk kepadatan daya motor listrik ultra-kinerja tinggi, dengan capaian luar biasa sebesar 59 kW/kg.
Motor fluks aksial YASA dikenal memiliki kepadatan daya dan torsi tertinggi di kelasnya untuk ukuran serta bobot yang sangat kecil, menjadikannya game-changer di sektor kendaraan listrik dan hybrid berperforma tinggi.
Selama ini, YASA bermitra dengan sejumlah produsen mobil paling inovatif di dunia untuk merancang dan mengembangkan motor listrik yang sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem penggerak (drivetrain).
Sebut saja Lamborghini Temerario, yang dilengkapi powertrain hybrid V8 twin-turbo dengan tiga motor listrik fluks aksial YASA. Mesin V8 twin-turbo tersebut dikembangkan sepenuhnya dari nol dan menjadi satu-satunya mesin super sportscar produksi massal yang mampu mencapai 10.000 rpm.
Ada pula Ferrari 296 GTB, yang diluncurkan pada 2021 sebagai Ferrari kedua yang menggunakan motor YASA. Mobil ini ditenagai mesin 2.992 cc (3.0L) twin-turbo 120°V6, dikombinasikan dengan motor listrik YASA berdaya 123 kW (165 hp; 167 PS), menghasilkan total tenaga sistem mencapai 819 hp.
YASA sendiri merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Mercedes-Benz Group sejak 2021, dengan mandat memproduksi motor listrik dan elektronika daya berkinerja tinggi untuk industri otomotif premium.
BACA JUGA:
Hilangnya Kelemahan Utama Mobil Listrik: Bobot Berat
Mobil listrik berperforma tinggi selama ini kerap memiliki bobot besar akibat ukuran motor listrik dan berat baterai yang signifikan. Kondisi ini sering kali berdampak negatif terhadap dinamika berkendara, handling, dan sensasi fun-to-drive yang menjadi karakter khas mobil mewah sejati.
Rekor terbaru YASA dengan kepadatan daya 59 kW/kg menjadi pencapaian teknologi yang sangat penting. Dampaknya terhadap dunia otomotif mewah, terutama di segmen performa tinggi dan supercar diperkirakan amat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Pencapaian luar biasa ini diperoleh melalui pengujian versi terbaru dari motor prototipe fluks aksial YASA. Dengan bobot hanya 12,7 kg, motor tersebut mampu menghasilkan daya puncak jangka pendek hingga 750 kW, atau setara lebih dari 1.000 tenaga kuda, dalam uji terbaru menggunakan dinamometer berkapasitas tinggi.
Angka 59 kW/kg ini mencerminkan peningkatan signifikan sekitar 40 persen dibanding rekor tidak resmi YASA sebelumnya sebesar 42 kW/kg, yang dicapai pada awal musim panas lalu. Saat itu, versi motor berbobot 13,1 kg mampu menghasilkan daya 550 kW (738 bhp).
Tidak hanya fokus pada daya puncak, YASA juga menyoroti aspek kegunaan praktis motor ini. Perusahaan memperkirakan daya berkelanjutan (continuous power) dari motor baru tersebut berada di kisaran 350 kW hingga 400 kW (469–536 bhp).
Alhasil, karena motor listrik ini cukup kecil, ringan, dan memiliki torsi yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai motor hub (langsung di roda). Hal ini memungkinkan penghapusan banyak komponen kompleks dan berat, seperti gir reduksi/transmisi, diferensial, poros penggerak (driveshafts), dan as roda (cv axles). Kendaraan secara keseluruhan menjadi lebih sederhana dan jauh lebih ringan.
Tim Woolmer, Pendiri sekaligus CTO YASA, mengungkapkan kebanggaannya atas hasil tersebut dan menegaskan bahwa motor ini bukan sekadar konsep digital.
“Mencapai rating puncak jangka pendek 750 kW dan kepadatan 59 kW/kg adalah validasi utama dari teknologi fluks aksial generasi berikutnya,” ujar Woolmer, dikutip dari laman resmi pabrikan, Sabtu, 25 Oktober.
“Ini adalah bukti dari apa yang bisa dicapai inovasi teknik yang terfokus. Kami telah membangun motor listrik dengan kepadatan daya jauh lebih besar dibanding apa pun sebelumnya—semuanya menggunakan material dan proses yang terukur. Motor ini akan membawa teknologi pengubah permainan ke sektor otomotif berperforma tinggi,” tambahnya.
Motor prototipe ini dirancang dan dikembangkan di Oxford Innovation Centre YASA, dengan dukungan dari Advanced Propulsion Centre, UK. Motor tersebut diklaim kompak, skalabel, dan tidak menggunakan bahan eksotis, namun mampu mencapai performa luar biasa berkat rekayasa presisi dan manajemen termal yang canggih.
CEO YASA Joerg Miska, menambahkan bahwa teknologi mereka saat ini memiliki kepadatan kinerja hingga tiga kali lipat dibanding motor fluks radial terkemuka yang ada saat ini.
“YASA terus mendefinisikan ulang batas-batas kemungkinan dalam desain motor listrik—mengubah inovasi murni menjadi kemajuan teknik yang nyata,” pungkasnya.