JAKARTA – Pabrikan Swedia Volvo ddikabarkan akan mengembangkan XC90 generasi ketiga. Keputusan ini datang seiring dengan lambatnya transisi menuju kendaraan listrik murni yang semula diprediksi oleh pabrikan asal Swedia ini.
Sebelumnya, XC90 yang telah berusia 10 tahun baru saja mendapatkan facelift pada September 2024 setelah nyaris disuntik mati. Hal ini dikarenakan penundaan peluncuran SUV listrik besar, EX90, yang awalnya dimaksudkan sebagai penggantinya.
Namun, CEO Volvo, Hakan Samuelsson, mengonfirmasi bahwa model generasi ketiga tengah dalam perencanaan.
"Kami akan membutuhkan XC90 baru," ujarnya kepada para investor dalam panggilan pendapatan kuartal kedua perusahaan, dilansir dari Autocar, Jumat, 18 Juli.
XC90 baru kemungkinan besar akan menjadi Plug-in Hybrid (PHEV) dengan jangkauan jauh. Samuelsson mengindikasikan bahwa teknologi ini akan dibawa ke Eropa dari China, tempat Volvo akan memulai produksi XC70 Plug-in Hybrid baru dalam tiga bulan ke depan.
XC70 PHEV sendiri diklaim memiliki jangkauan listrik hingga 112 mil (sekitar 180 km).
"Ini adalah sesuatu yang saya pikir konsumen Eropa akan inginkan. Plug-in hybrid dengan jangkauan yang lebih jauh adalah solusi yang mungkin akan kita butuhkan selama beberapa tahun lagi dari yang kita kira,” lanjutnya.
BACA JUGA:
Pernyataan ini menunjukkan adanya perubahan strategi dari komitmen Volvo di tahun 2021 untuk sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik pada tahun 2030. Perusahaan tampaknya menyadari bahwa laju adopsi kendaraan listrik bervariasi secara global.
XC70 dibangun di atas platform Geely baru yang disebut SMA (Scalable Modular Architecture), dan platform ini juga berpotensi menjadi dasar untuk XC90 baru. Saat ini, XC90 PHEV facelift masih menggunakan baterai yang relatif kecil, di bawah 15kWh, dibandingkan dengan XC70 yang memiliki pilihan baterai 21kWh atau 40kWh. Baterai yang lebih kecil pada XC90 ini akan memengaruhi SUV facelifted tersebut di bawah aturan pengujian emisi baru yang akan berlaku akhir tahun ini, yang akan menghitung ulang angka CO2 untuk PHEV, sehingga model dengan baterai kecil akan lebih mahal pajaknya untuk mobil perusahaan.