JAKARTA - Mantan Wakil Presiden FIFA, Pangeran Ali bin Al Hussein, mengkritik kepemimpinan FIFA yang dipimpin oleh Gianni Infantino pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Pria yang kini menjabat Presiden Federasi Sepak Bola Yordania itu menggambarkan uang hadiah untuk Tim Nasional (Timnas) Yordania yang ditahan sebagai semacam pemerasan.
Pangeran Ali mengatakan Federasi Yordania yang dipimpinnya masih belum menerima uang yang seharusnya dibayarkan karena mencapai final Piala Arab (Arab Cup) yang dimainkan pada Desember 2025 di Qatar.
Dalam unggahan media sosial, Pangeran Ali mengatakan bahwa selama Piala Dunia 2026--yang mana Yordania melakukan debutnya pada Juni 2026--ia diberi tahu bahwa jika ia mendukung Infantino, maka FIFA akan sangat "membantu" Federasi Yordania, dalam hal ini pencairan uang hadiah Piala Arab tersebut.
BACA JUGA:
Infantino "menyandera" uang hadiah Timnas Yordania agar Federasi Yordania memberikan dukungan kepada pria berkepala pelontos itu untuk terus memimpin FIFA hingga masa jabatan habis dan mendukung pemilihan berikutnya.
"Kami bangga di Yordania karena menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang."
"Namun, seluruh situasi ini sama dengan pemerasan dan kami menolak untuk menyerah pada hal itu," kata Pangeran Ali--yang menempati posisi ketiga dalam kontes Presiden FIFA yang diikuti lima kandidat ketika Infantino pertama kali terpilih pada Februari 2016--pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Sebagaimana diketahui, Piala Arab 2025 yang dimenangi Maroko di final seharusnya memberikan hadiah sebesar 4,2 juta dolar AS kepada finalis yang kalah.
"Uang yang seharusnya diterima tim kami karena telah mencapai final belum diberikan, sementara pada saat yang sama FIFA membual tentang berapa miliar yang mereka miliki sebagai cadangan."
"Jelas masalahnya sebenarnya terletak pada kepemimpinan. Selama berbulan-bulan, FIFA menolak untuk membantu kami dalam hal ini atau masalah lainnya," ujar Pangeran Ali dilansir ESPN.
Pangeran Ali merupakan orang yang terpilih oleh AFC untuk menjabat di Komite Eksekutif FIFA dari tahun 2011 hingga 2015.
Saat itu, ia melawan Presiden FIFA Sepp Blatter dalam pemilihan Mei 2015. Pemungutan suara untuk memilih kembali Blatter diadakan di tengah bayang-bayang penggerebekan di hotel-hotel Zurich dua hari sebelumnya untuk menangkap para pejabat FIFA sebagai bagian dari penyelidikan oleh badan-badan federal Amerika Serikat dan Swiss.
Kini, Pangeran Ali dihadapkan lagi pada kepemimpinan FIFA yang tak kalah bobroknya.
Infantino saat ini berada di bawah tekanan untuk menyelamatkan masa jabatannya sebagai Presiden FIFA selama 11 tahun di tengah reaksi keras dari para pemimpin sepak bola global tentang rencananya untuk menjual saham keuntungan Piala Dunia pada masa depan kepada investor yang dipimpin oleh Joshua Kushner.
Proposal yang didanai oleh dana Thrive Eternal milik Kushner akan membayar masing-masing 20 juta dolar AS kepada semua anggota FIFA lainnya jika mereka menerima rencana tersebut sebelum batas waktu 19 September 2026.
Namun, tekanan itu membuat rencana gila Infantino tersebut akhirnya dibatalkan. Kendati demikian, hal itu tak membuat tekanan kepada Presiden FIFA berhenti.
Dampak dari rencana ekuitas swasta yang terungkap seminggu lalu telah mengguncang politik sepak bola. Meski begitu, sederas apa pun tekanan yang mengalir, Infantino tampaknya akan terpilih kembali tanpa lawan tahun depan untuk masa jabatan keempat dan terakhirnya memimpin FIFA hingga 2031.
Melihat betapa kuatnya dukungan kepada Infantino, asosiasi anggota FIFA yang kini menentang pria asal Swiss itu mulai menyamakan suara dan mencari calon lain untuk pemilihan Presiden FIFA pada 2027.
Mantan kolega Infantino di UEFA sekarang mencari kandidat saingan. Sebagaimana diketahui, UEFA menjadi konfederasi paling keras yang mengancam akan memboikot pertandingan, acara, dan pertemuan FIFA.
Sementara pimpinan Concacaf dan AFC--yang anggotanya termasuk Yordania--juga telah menyatakan penentangan terhadap Infantino.
FIFA telah menetapkan batas waktu 18 November 2026 bagi para kandidat Presiden FIFA untuk menyatakan diri dalam pemilihan oleh 211 federasi anggota pada 18 Maret 2027 di Rabat, Maroko.
Asia dipandang sebagai benua kunci dalam kontes Presiden FIFA yang mungkin akan terjadi, dengan Eropa dan negara-negara dari Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia diperkirakan ingin Infantino disingkirkan. Sementara Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania diperkirakan akan mendukung pria asal Swiss itu.