JAKARTA – Penyelenggaraan balapan MotoGP Qatar 2026 terancam tidak bisa dilaksanakan tepat waktu karena situasi yang masih panas imbas serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir pekan kemarin.
Sirkuit Internasional Lusail dijadwalkan menjadi tuan rumah putaran pertama musim WEC 2026 pada 28 Maret 2026 sebelum seri balapan keempat dari ajang MotoGP digelar di sana pada 12 April 2026.
CEO MotoGP, Carmelo Ezpeleta, mengaku bahwa penyelenggaraan MotoGP Qatar diragukan bisa dihelat sesuai jadwal karena konflik yang sedang berkecamuk di Iran dan otomatis mengganggu berbagai negara di sekitarnya, terutama Qatar.
BACA JUGA:
"Kami harus menunggu. Saya tidak bisa mengatakan sekarang bahwa kami tidak akan balapan di sana. Kami telah berbicara dengan Qatar sejak hari Minggu, 1 Maret 2026. Kami akan membuat keputusan," ujarnya dilansir dari Crash.
Qatar termasuk salah satu negara yang ikut kena getah akibat perang tersebut. Bandara internasional mereka di Doha yang merupakan pusat penerbangan (hub) internasional bahkan sampai ditutup karena risiko yang begitu besar.
Ezpeleta menegaskan bahwa mereka masih punya rencana lain agar balapan di sana tetap digelar meskipun tidak sesuai jadwal awal. Ia juga menepis kemungkinan menunjuk lokasi lain untuk menggantikan Qatar.
"Pindah ke tempat lain? Tentu tidak. Apakah akan sesuai dengan jadwal? Kami sangat pandai membuat jadwal. Kami akan segera tahu, tentu saja. Kami menunggu mereka memberi tahu kami sesuatu. Masih ada waktu," ujar dia.
Situasi di Iran membuat berbagai penerbangan internasional tersendat. Sebelumnya lebih dari seribu staf tim-tim Formula One (F1) untuk balapan Grand Prix Australia terpaksa mengubah rencana perjalanan mereka akibat konflik ini.
Petenis asal Rusia, Daniil Medvedev, juga sempat terjebak di Dubai sebelum dilaporkan sudah tiba di California, Amerika Serikat, untuk mengikuti Indian Wells 2026.
Kemudian, beberapa pebulu tangkis juga terpaksa absen di All England 2026 karena tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Inggris.