Bagikan:

JAKARTA - Chelsea mencoba menahan derasnya angin negatif saat kembali ke Stamford Bridge akhir pekan ini untuk menghadapi Everton, tim yang justru sedang memanjat klasemen dengan langkah mantap. Pertemuan ini jadi ulangan duel April 2025, ketika gol tunggal Nicolas Jackson memastikan kemenangan tipis bagi The Blues.

Performa Chelsea memasuki Desember seperti sinyal WiFi sekolah: kadang kuat, sering meredup. Setelah menang meyakinkan 3-0 atas Barcelona di Liga Champions dan mencuri satu poin dengan 10 pemain melawan Arsenal, ritme mereka mendadak goyah. Kekalahan 3-1 dari Leeds, hasil 0-0 melawan Bournemouth, dan kekalahan 2-1 dari Atalanta membuat tim asuhan Enzo Maresca merosot ke peringkat kelima Premier League.

Posisi mereka sebenarnya tidak genting—hanya satu poin dari empat besar. Namun jarak delapan poin dari Arsenal di puncak klasemen membuat ruang napas mereka menipis. Salah satu masalah terbesar: gagal menjaga keunggulan. Chelsea telah membuang delapan poin dari posisi memimpin di kandang musim ini, lebih banyak dari tim mana pun di liga.

Meski begitu, tuah Stamford Bridge menghadirkan kepercayaan tersendiri. Chelsea tak terkalahkan dalam 30 pertemuan kandang terakhir melawan Everton di liga—rekor kandang terpanjang mereka melawan satu klub. Everton kali terakhir pulang membawa kemenangan dari London Barat terjadi pada November 1994. Untuk David Moyes, rekor tandang di Stamford Bridge lebih getir lagi: tak pernah menang dalam 20 laga Premier League.

Namun Everton musim ini membawa energi berbeda. Sejak Moyes kembali pada Januari, hanya Arsenal, Manchester City, dan Chelsea yang memiliki lebih banyak kemenangan tanpa kebobolan ketimbang The Toffees. Mereka sedang berada di awan—empat kemenangan dari lima laga liga terakhir, semuanya tanpa kebobolan.

Kemenangan 3-0 atas Nottingham Forest pekan lalu mendorong Everton naik ke peringkat ketujuh, hanya dua poin dari zona Liga Champions. Performa ini membangkitkan harapan besar di Merseyside biru—mungkin ini tahun mereka kembali ke kompetisi Eropa setelah hampir satu dekade tersingkir dari panggung elit.

Catatan tandang Everton pun solid. Mereka menang 1-0 di markas Manchester United dan Bournemouth dalam dua laga tandang terakhir, dan kini berburu rekor tiga kemenangan tandang beruntun tanpa kebobolan untuk pertama kalinya sejak 2008. Meski catatan sejarah melawan Chelsea tak berpihak, momentum mereka menjadi bahan bakar penting.

Di kubu Chelsea, Moises Caicedo masih menjalani hukuman tiga pertandingan, sementara Levi Colwill, Liam Delap, Romeo Lavia, Dario Essugo, dan Mykhaylo Mudryk tetap absen. Wesley Fofana mengalami cedera mata akibat kecelakaan unik saat melawan Atalanta, tetapi Maresca berharap ia bisa turun bermain, kemungkinan berdampingan dengan Trevoh Chalobah.

Cole Palmer yang diistirahatkan di Bergamo akan kembali mengisi lini serang kreatif. Reece James kemungkinan dirotasi, sementara Estevao dan Alejandro Garnacho mengincar posisi starter di sayap.

Everton kehilangan Seamus Coleman, Jarrad Branthwaite, dan Merlin Rohl. Namun Thierno Barry yang mencetak gol debut di laga terakhir siap tampil. Idrissa Gueye dan Tim Iroegbunam juga kembali usai absen karena skors. Kiernan Dewsbury-Hall membawa angin positif: empat gol musim ini, tiga di antaranya dalam empat laga terakhir.

Pertandingan ini terasa seperti rintangan psikologis bagi Chelsea sekaligus peluang emas bagi Everton. Dengan performa The Blues yang tidak stabil dan Toffees yang sedang melaju, laga bisa berjalan seimbang.

Benturan dua tim dengan tren berbeda ini bisa menjadi salah satu penentu arah musim keduanya saat kalender mendekati perubahan tahun.

Prakiraan susunan pemain

Chelsea: Sanchez; Gusto, Chalobah, Fofana, Cucurella; Santos, Fernandez; Estevao, Palmer, Garnacho; Pedro.
Everton: Pickford; O'Brien, Keane, Tarkowski, Mykolenko; Garner, Gueye; Ndiaye, Dewsbury-Hall, Grealish; Barry.

Perkiraan skor: Chelsea 1-1 Everton.