Bagikan:

JAKARTA - Segalanya bisa berubah dengan sangat cepat jika menukangi Manchester United. Dalam kurun waktu tiga minggu, Ruben Amorim berubah dari kandidat pemecatan menjadi nominasi manajer terbaik bulan ini.

Saat bertandang ke City Ground pada Sabtu, 1 November 2025, melawan Nottingham Forest, The Red Devils membuka keunggulan 1-0 lewat gol Casemiro pada menit ke-34.

Keunggulan itu membuat tim asuhan Amorim berada di posisi kedua klasemen Liga Inggris dan menjadi pesaing terdekat Arsenal.

Namun, skenario berbalik lagi. Nottingham Forest mencetak dua gol dalam rentang waktu 92 detik di babak kedua.

Butuh gol penyeimbang yang memukau pada menit-menit akhir dari Amad Diallo untuk menyelamatkan hasil imbang 2-2 saat Amorim kembali belajar tentang pasang-surut sebagai pelatih Manchester United.

Setelah pertandingan, pelatih asal Portugal itu menyesali hilangnya dua poin berharga, tetapi juga memilih untuk melihat sisi positifnya.

"Saya pikir kami melakukan beberapa hal dengan baik. Saya juga berpikir bahwa tingkat energi kami sedikit menurun."

"Ketika tim kami sedikit menurun, energinya terasa. Kami bisa bermain bagus, tetapi tidak sepenuhnya. Namun, perasaan saya ialah para pemain telah berusaha, sungguh-sungguh berusaha."

"Mereka telah berusaha selama seminggu dan mereka juga berusaha di pertandingan ini. Sebelumnya, jika kami mengalami lima menit buruk seperti ini dan kebobolan dua gol, kami tidak bisa bangkit."

"Hari ini rasanya berbeda. Anda bisa merasakan bahwa kami tidak bisa memenangi pertandingan ini, tetapi kami tidak akan kalah. Itulah perasaan yang terkadang harus dimiliki tim besar," kata Amorim dilansir ESPN.

Meskipun tiga kemenangan beruntun membawa Manchester United ke zona Eropa, Amorim datang ke konferensi pers sebelum laga di Carrington pada Kamis pekan lalu dengan membawa sebuah peringatan.

Tiga minggu terakhir berjalan baik, katanya, tetapi timnya berada pada tahap perkembangan di mana segalanya dapat berubah dengan cepat. Benar saja, semua itu terlihat saat melawan Nottingham Forest.

Pada babak pertama, Manchester United bermain dengan percaya diri layaknya tim yang baru saja mengalahkan Sunderland, Liverpool, dan Brighton.

Mereka memang pantas unggul di babak pertama meskipun gol itu terjadi dalam situasi yang kontroversial.

Manajer Nottingham Forest, Sean Dyche, sangat marah karena wasit Darren England memutuskan bahwa Nicolo Savona tidak menjaga bola tetap dalam permainan dan menghadiahkan Manchester United tendangan sudut.

Ketika Bruno Fernandes memberikan umpan kepada Casemiro yang menyundul bola melewati Matz Sels, suasana hatinya semakin buruk. Dyche berlarian di area teknisnya sambil berteriak kepada wasit keempat, Robert Madley.

"Itu bukan hal yang tidak meyakinkan, saya sudah melihatnya kembali. Mereka memberikan tendangan sudut yang bukan tendangan sudut."

"Itu keputusan yang sangat buruk. Itu sangat menentukan. Kami berjuang mati-matian untuk naik ke papan klasemen," ujar Dyche geram, yang meraih poin pertamanya di Liga Inggris sebagai pelatih Nottingham Forest.

Selanjutnya, giliran Amorim yang menunjukkan rasa frustrasinya di pinggir lapangan. Manchester United tampak relatif nyaman di babak pertama, tetapi tak lama setelah turun minum, mereka perlu mengingat bahwa masih perlu banyak perbaikan.

Dua kali dalam rentang waktu satu menit 42 detik, umpan silang dilayangkan ke kotak penalti dari sisi kanan Nottingham Forest dan dua kali bola berakhir di gawang.

Yang pertama ialah kesalahan fatal di tiang kedua ketika Morgan Gibbs-White berhasil lepas dari penjagaan ke Amad Diallo untuk mencetak gol.

Yang kedua berantakan. Manchester United gagal mengantisipasi umpan silang, Igor Jesus berhasil menyundul bola melewati sekumpulan pemain lawan, dan Savona melesat di depan Diogo Dalot untuk menceploskan bola ke gawang.

Saat itulah para suporter yang datang dari sudut stadion mulai teringat kembali ke musim lalu. Manchester United sedang terpuruk dan Nottingham Forest mengamuk.

Namun, alih-alih kalah, tim Amorim justru bangkit dan menyamakan kedudukan sembilan menit menjelang bubaran ketika Amad Diallo melepaskan tendangan voli dari tepi kotak penalti.

Hasilnya mungkin lebih baik, jika tendangan Amad Diallo yang mengarah ke gawang tak berhasil diblok oleh Murillo pada masa injury time.

Meskipun kecewa karena harus puas dengan satu poin, Amorim yakin jika pertandingan yang sama dimainkan musim lalu, Manchester United akan kalah.

"Ya (kami akan kalah), dengan lebih banyak gol. Itulah perasaan saya. Kami kehilangan kendali permainan selama lima menit dan kami harus membayar harganya."

"Kami datang dari tiga pertandingan bagus dan kami memiliki kepercayaan diri yang berbeda. Kami bisa saja mengalami momen buruk, tetapi tiba-tiba kami memiliki tiga pertandingan bagus."

"Jadi sepak bola memang seperti itu. Pertandingan pun seperti itu. Kami punya momen-momen bagus, kami mencetak gol."

"Anda bisa merasakan bahwa kami mengendalikan permainan ketika babak pertama berakhir. Kami memulai babak kedua dan kami kesulitan."

"Kami kehilangan konsentrasi selama lima menit dan itu sudah cukup di Liga Inggris. Namun, kami berhasil bangkit dari itu dan itu perasaan yang baik," ujar Amorim lagi.

Ini pertama kalinya sejak hasil imbang 1-1 dengan Bournemouth pada April 2025, Manchester United meraih satu poin setelah tertinggal.

Setidaknya, ketangguhan dan kepercayaan diri Manchester United—yang begitu rapuh musim lalu—semakin meningkat dan momentumnya masih utuh.

Ada hal positif dan negatif bagi Amorim menjelang perjalanan ke Tottenham akhir pekan depan. Lebih banyak suka dan duka.

Perjalanan Manchester United yang seperti roller coaster ini tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.