Bagikan:

JAKARTA - Manny Pacquiao, legenda tinju dunia asal Filipina, akan mengakhiri masa pensiunnya pada usia 46 tahun. Ia  dijadwalkan bertarung melawan petinju Amerika, Mario Barrios, pada 19 Juli 2025 di Las Vegas atau Minggu pagi WIB. Laga ini akan memperebutkan gelar juara dunia kelas welter versi WBC.

Pacquiao terakhir kali bertarung secara profesional pada tahun 2021, ketika ia kalah dari Yordenis Ugas lewat keputusan mutlak. Sejak kekalahan tersebut, ia lebih banyak fokus pada karier politiknya di Filipina. Ia sempat menjabat sebagai senator dan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2022, namun tidak berhasil menang.

Sebagai satu-satunya petinju dalam sejarah yang memenangkan gelar dunia di delapan divisi berbeda, Pacquiao dikenal luas di seluruh dunia. Ia telah mengalahkan sejumlah nama besar seperti Shane Mosley, Miguel Cotto, dan Erik Morales. Namun, ia juga pernah mengalami kekalahan besar, termasuk melawan Floyd Mayweather Jr. pada 2015 dalam laga yang menghasilkan pendapatan pay-per-view sekitar  400 juta dolar AS — angka terbesar dalam sejarah tinju.

Kontroversi dan Kritik atas Kembalinya Pacquiao

Keputusan Pacquiao untuk langsung bertarung dalam laga perebutan gelar juara dunia menuai kritik dari sejumlah pengamat tinju, termasuk pelatih sekaligus analis tinju ternama, Dave Coldwell. Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan pada 14 Juli 2025, Coldwell menyatakan bahwa ia tidak akan menonton pertandingan comeback Pacquiao.

Menurut Coldwell, langkah Pacquiao terasa seperti “jalan pintas” yang mengandalkan nostalgia, bukan prestasi terkini. Ia menyebut bahwa keputusan WBC untuk langsung memberikan kesempatan perebutaan gelar kepada Pacquiao melewati banyak petinju aktif lain yang telah bekerja keras naik peringkat adalah tindakan yang tidak adil.

Coldwell mencontohkan bagaimana George Foreman, yang juga melakukan comeback di usia 45 tahun, harus menjalani sejumlah pertarungan berat terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali merebut gelar juara dunia. Sedangkan Pacquiao dianggap “melangkahi” proses tersebut dan langsung masuk ke laga puncak, meskipun ia sudah lama tidak bertarung secara kompetitif.

Dalam pertarungan ekshibisi terakhirnya melawan petinju Jepang Rukiya Anpo, Pacquiao dinilai bergerak lamban dan kehilangan ketajaman waktu serangan. Hal ini menjadi sinyal bahwa kemampuan fisiknya sudah tidak seperti dulu.

Bisakah Pacquiao Mengalahkan Barrios?

Dari sudut pandang pelatih, Coldwell mengatakan bahwa sangat sulit melatih petinju yang sudah jauh melewati masa puncaknya. Gaya bertinju Pacquiao yang mengandalkan energi tinggi, pergerakan lincah, dan refleks tajam menjadi sangat sulit dipertahankan di usia 46 tahun. Kelelahan otot, reaksi lambat, dan ketahanan tubuh yang menurun bisa dimanfaatkan oleh lawan seperti Barrios.

Mario Barrios sendiri adalah petinju berusia 30 tahun dengan rekor 29 kemenangan, 2 kekalahan, dan 1 seri. Ia dikenal sebagai petinju yang terampil dan berpengalaman di level elit, meskipun bukan yang terkuat di divisinya. Coldwell memperkirakan bahwa Barrios akan berfokus menyerang tubuh Pacquiao untuk menguras tenaganya.

Coldwell, seperti dikutip VOI dari BBC, juga memperingatkan bahwa hasil laga ini bisa berbahaya dalam jangka panjang bagi Pacquiao. Jika Pacquiao tampil cukup baik, ia mungkin tergoda untuk terus bertarung — yang bisa mengancam kesehatannya. Sebaliknya, jika ia kalah telak, seperti saat KO melawan Juan Manuel Marquez pada 2012, itu bisa menjadi momen menyedihkan yang menodai akhir kariernya.

Alasan di Balik Comeback 

Motivasi Pacquiao kembali ke ring masih dipertanyakan. Apakah semata untuk mengejar kejayaan masa lalu? Atau sekadar demi uang? Coldwell berharap bukan alasan kedua. Ia menegaskan bahwa warisan Pacquiao sebagai salah satu petinju terbesar sudah sangat kuat dan tak akan tergantikan, terlepas dari hasil comeback ini.

Namun, ia juga menyoroti perlunya tinju profesional memiliki regulasi yang lebih ketat terkait petinju yang kembali bertarung di usia lanjut. Meskipun tidak mendukung batas usia mutlak, ia menilai perlu ada evaluasi ketat berdasarkan kondisi fisik dan mental masing-masing petinju.

Pacquiao telah memulai debut profesionalnya sejak tahun 1995 dan memiliki rekor 62 kemenangan, 8 kekalahan, dan 2 kali seri. Kembalinya ia ke ring tinju di usia 46 tahun menjadi topik hangat dan memecah opini. Apapun hasil pertarungan melawan Barrios nanti, dunia akan kembali menyaksikan salah satu ikon olahraga terbesar menunjukkan keberanian — meskipun banyak yang mempertanyakan kebijaksanaannya.

Harapan terbaik dari banyak pihak adalah bahwa Pacquiao bisa pulang dengan selamat, terhindar dari cedera serius, dan menyadari bahwa warisan kejayaannya telah cukup untuk dikenang sepanjang masa.