JAKARTA - Monita Tahalea baru saja memperkenalkan album keempatnya yang bertajuk Merona pada akhir Juni lalu. Album ini memuat sembilan track, di mana Monita kembali bekerja sama dengan Lie Indra Perkasa sebagai produser utama.
Track pertama berjudul “Angan”, dilanjutkan dengan theme-song “Merona” yang juga dijadikan tajuk album. Monita menyebut nomor ini jadi karya paling awal yang dikerjakan—bersama dengan pianis jazz, Sri Hanuraga.
“Memang saya spesial minta tolong Aga, saya kasih beberapa referensi tentang bunyi-bunyian yang pengin saya coba bunyikan sebagai acuan untuk album keempat ini, dan Aga langsung membuka dirinya dengan gembira, langsung dibikinin segala macem dan aku tulis liriknya, jadilah lagu ‘Merona’,” kata Monita Tahalea saat berkunjung ke kantor VOI di Tanah Abang, Jakarta Pusat baru-baru ini.
“Dan ada satu lagu lagi, salah satu lagu yang paling awal selesai, track terakhir, judulnya ‘Kehidupan’. Itu juga dibuat bersama dengan Sri Hanuraga,” sambungnya.
Monita memang cukup banyak melibatkan musisi dalam album terbarunya. Dave Lumenta juga dilibatkan dalam “Merona”. Selain itu, ada Kevin Jonathan Hansen di track berjudul “Mr.Moon”, serta Rachel Victoria di track city pop berjudul “Bunga Di Tepi Jalan”.
Penyanyi 37 tahun itu menjelaskan, tema album “Merona”—mulai dari pilihan bunyi hingga cerita keseluruhannya—berkisah tentang suka-duka yang benar-benar dirasakan menjadi satu keutuhan hidup.
“Kan hidup enggak cuma senengnya aja, ada banyak cerita yang mungkin enggak selalu kita share ke orang-orang: cerita proses-proses gelapnya, gagalnya, hal-hal yang harus kita lepaskan ketika kita mau meraih sesuatu—pasti ada yang harus kita tinggalkan juga—merelakan orang-orang yang jalan bersama dengan kita dan memilih jalan lain,” ujar Monita.
“Jadi, banyak hal di dalam satu kata Merona itu, dan aku senang banget bisa diwakilkan. Semoga teman-teman bisa mendengar itu ketika mendengarnya. Jadi, yang aku coba sampaikan adalah: semua keberanian untuk merasa,” imbuhnya.
Kurasi cukup ketat dilakukan, hingga akhirnya Monita dan Indra memutuskan sembilan track tersebut. Meski terdapat beberapa faktor penyebab, keselarasan ide dan cerita lagu terhadap visi album menjadi alasan utama.
“Jadi ya kalau memang harus direlakan ada lagu yang kita suka tapi enggak harmonis dengan ceritanya, ya saya bersyukur punya partner bermusik yang bisa saya percaya, enggak apa-apa ini nggak ada, kita bisa kerjain di next project,” katanya. “Sehingga kita sepakat untuk sembilan lagu ini, yang kami rasa akan kami sajikan di album ‘Merona’, karena jalan ceritanya sesuai sama visi albumnya sendiri.”
BACA JUGA:
Keberanian untuk Menyajikan Kebaruan
Kebaruan jadi elemen penting untuk melihat album “Merona”. Selama lima tahun terakhir—sejak album ketiga, “Dari Balik Jendela” (2020)—Monita menyebut banyak hal baru telah dilalui.
“Sudah pasti dalam jangka waktu lima tahun banyak yang terjadi, banyak referensi yang aku dengar lagi, banyak hal yang aku coba temukan dan mungkin enggak ketemu sebelumnya, ada banyak hal yang enggak coba aku cari malah menghampiri aku,” tutur Monita.
“Jadi, apa yang terjadi di album ‘Merona’ ini sebenarnya sama sekali enggak ada paksaan, sesuai dengan proses waktu yang berjalan, ada banyak hal yang pengen aku coba, ada banyak hal yang tumbuh di dalam diri aku, ada banyak hal yang menarik perhatian aku. Dan di album ini aku mencoba punya cukup keberanian untuk melangkah.”
Pada album sebelumnya, terdapat sebagian unsur musik elektronik. Namun untuk album terbaru, bebunyian elektronik itu semakin dieksplorasi. Monita merasa lebih berani untuk keluar dari pakem lama—mengungkap banyak hal yang sebelumnya masih tersembunyi.
Dalam hal kebaruan, kata Monita, kehadiran Lie Indra Perkasa juga menjadi penting. Ia mengatakan, kemampuan sang produser dalam merangkai suara-suara elektronik jadi pembuka jalan untuk eksplorasi lebih lanjut.
Monita mengatakan, eksplorasi suara-suara elektronik tersebut membuatnya berani untuk keluar dari citra musiknya yang lebih dekat dengan unsur akustik.
“Di album ini, aku mencoba untuk melepaskan diri aku dari keharusan-keharusan—harus akustik, harus tetap ini, harus tetap apa, harus tetap apa. Aku mencoba untuk melepaskan keharusan-keharusan itu,” katanya.
“Kalau memang ada banyak hal yang bisa coba kita rasakan dengan utuh, ya aku pengin merasakannya dengan utuh. Aku pengen ngerasa alive di album ini, dengan mengeksplorasi bunyi-bunyian yang baru atau berani, untuk melakukan hal yang mungkin belum pernah aku lakukan sebelumnya—cuma kepikiran doang tapi enggak pernah di eksekusi.”
Berkaitan dengan kebaruan tersebut, Monita sadar akan banyak ekspektasi pendengar yang tidak terpenuhi. Penyanyi jebolan Indonesian Idol itu mengaku banyak menerima pesan penggemar, yang berharap akan era “Dandelion” (2015) atau “Dream, Hope & Faith” (2010). Namun begitu, ia menyebut banyak juga penggemar yang tetap menerima perjalanan baru ini.
“Banyak harapan teman-teman semua, dan aku sangat menghargainya, karena buat aku berarti teman-teman itu sangat dekat dengan musik aku. Tapi di album ini, aku percaya banget, teman-teman pasti bisa ikut dalam perjalanan aku yang baru ini,” katanya. “Makanya track nomor satu, aku mencoba untuk menyambut dan mengantarkan teman-teman semua ke musim yang baru aku punya ini. Dan semoga teman-teman mendapatkan pesannya. Jadi, kalau dengerin dari track pertama sampai track terakhir, aku yakin sih teman-teman akan dengan sendirinya mengikuti perjalanan aku.”
“Dan pertanyaan-pertanyaan dan harapan itu akhirnya melebur jadi satu perjalanan bersama aja. Karena yang aku lihat sejak albumnya dirilis beberapa hari lalu, feedback yang aku dapat sejauh ini akhirnya seperti itu… Jadi kayak aku seneng banget akhirnya ekspektasi itu mereka kesampingkan dan mereka akhirnya ikut dalam perjalanan ini.”
Bermusik dan Spiritualitas
Kebaruan yang ditampilkan Monita tidak terlepas dari keyakinannya akan musik. Baginya, bernyanyi itu aktivitas spiritual—semakin dijalani, maka tidak ada pilihan lain selain terus bertumbuh.
“Aku merasa musik itu spiritual banget sih. Karena enggak bisa dipungkiri, musik itu buat aku anugerah,” ujar Monita. “Jadi aku sadar, ini anugerah dari Tuhan. Kalau sampai kita dikasih kepercayaan untuk menuliskan sesuatu yang akhirnya bisa sampai ke kehidupan orang lain, buat aku itu anugerah yang enggak boleh disia-siakan.”
Dia melanjutkan, “Makanya kadang-kadang kalau jadi seorang musisi itu, aku mendingan lebih banyak mendekatkan diri sama Tuhan, karena apa yang kita berikan itu enggak sembarangan. Kita enggak pernah tahu, pesan yang kita bawakan melalui kata-kata dan lagu kita itu bisa jadi apa buat orang lain, hopefully bisa jadi sesuatu yang bermanfaat—sesuatu yang menyembuhkan, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang menemani—penginnya kayak gitu.”
Spiritualitas juga memiliki proses sendiri, di mana Monita merasa waktu yang dilaluinya selama berproses sebagai teman. Hal itu bisa dilihat dari siklus perilisan albumnya yang lima tahun sekali, meski siklus tersebut bukanlah sesuatu yang direncanakan.
“Dan aku menyadari bahwa akhirnya pola aku kayak gitu. Satu tahun pertama kita kenalin album barunya. Tahun kedua kita mulai jalan ke mana-mana. Tahun ketiga kita mulai dapat ide yang baru lagi untuk hal-hal yang mau kita lakukan berikutnya. Tahun keempat kita mulai masuk studio. Tahun kelima di mana apa yang kita kerjain itu bisa kita produksi dan rilis,” tutur Monita.
Bagi Monita, bernyanyi adalah sebuah anugerah tersendiri. Ia merasa didengar Tuhan ketika bernyanyi. Oleh karenanya, selama masih diberi kepercayaan untuk bernyanyi , ia akan terus melakukannya.
“Kalau buat aku pribadi, aku tuh selalu ngerasa kalau aku nyanyi itu kayak Tuhan dengar aku. Jadi, buat aku nyanyi itu kayak sedekat doa,” katanya. “Aku dulu sering ngerasa enggak didengar, tapi begitu Tuhan mempertemukan aku dengan dunia musik—apalagi waktu kita di dalam studio, kan private banget, hanya kita, kata-kata, dan mikrofon. Enggak ada siapa-siapa lagi, teman kita ada di ruangan lain—aku ngerasa Tuhan denger aja cerita aku.”
“Dan buat aku itu yang paling penting, sisanya lagunya mau dibawa ke mana, itu udah bagiannya Tuhan aja. Jadi, selama masih dikasih kepercayaan itu, selama masih dititipkan suara, aku akan nyanyi terus. Kalaupun Tuhan pengen aku ngelakuin hal yang lain, aku percaya dia pasti akan kasih tahu aku dan akan tunjukkan jalannya juga. Tapi untuk sekarang, selama masih dikasih kepercayaan, aku akan nyanyi terus.”