JAKARTA - Duo punk asal Purbalingga, Sukatani menjadi sorotan setelah permohonan maaf dan penarikan lagu “Bayar Bayar Bayar” – yang memuat kritik terhadap oknum polisi – beberapa hari lalu.
Respon yang diberikan terhadap Sukatani begitu besar. Muncul gerakan tagar Kami Bersama Sukatani di media sosial. Belum lagi, enam anggota Direktorat Reserse Siber Polda Jateng harus diperiksa Divisi Propam Polri karena dugaan intimidasi terhadap dua personel Sukatani, Novi Citra Indriyati alias Twister Angel (vokal) dan Muhammad Syifa Al Lutfi alias Alectroguy (gitar).
Pertanyaan besar yang muncul adalah: seberapa keras kritik Sukatani di lagu “Bayar Bayar Bayar”, hingga harus menimbulkan kegaduhan seperti saat ini?
Menjawab pertanyaan tersebut, pengamat musik Mudya Mustamin mengatakan bahwa kritik terhadap pemerintah atau penguasa adalah hal yang biasa ditemukan di banyak band yang mengusung musik punk seperti Sukatani.
“Terlepas dari kehebohan kasus ‘pembredelannya’, lagu ‘Bayar Bayar Bayar’ sebenarnya adalah hal yang lumrah jika konteksnya di ranah punk,” kata Mudya melalui pesan singkat kepada VOI, Senin, 24 Februari.
“Kalau melihat sejarahnya, punk sangat identik dengan pesan-pesan anti kemapanan, termasuk kritikan terhadap pemerintah/penguasa. Dan Sukatani, banyak terpengaruh akan attitude punk di penampilan serta suguhan musiknya,” sambungnya.
Kritik terhadap penguasa, kata Mudya, merupakan salah satu muatan utama atau menu utama dalam ranah musik punk. Oleh karenanya, akan sangat banyak lagu dari ranah musik punk, juga rock dan metal, yang menyuarakan protes keras atas kondisi sosial-politik yang dinilai tak wajar.
BACA JUGA:
“Dan jika berbicara dalam konteks musik, bisa dibilang punk juga bagian dari turunan rock, dan ikut mempengaruhi perkembangan musik metal. Demikian pula dalam urusan lirik,” ujar Mudya.
“Nggak usah jauh-jauh, di ranah rock Tanah Air, kita pernah dihebohkan lirik-lirik keras dari musisi seperti Iwan Fals dan Swami. Itu yang berhasil tembus ke ranah mainstream. Di ranah punk ‘bawah tanah’ (underground), lebih banyak lagi pengusung punk (dengan segala macam turunannya - termasuk Sukatani) yang meneriakkan lirik-lirik protes nan keras,” lanjutnya.
“Di lingkup underground, selain punk, juga ada sub-genre seperti hardcore dan grindcore, yang juga identik mengumbar lirik-lirik keras dan vulgar.”
Lebih lanjut, Mudya melihat musik merupakan sarana untuk menyalurkan ekspresi, termasuk menyampaikan perasaan, kegelisahan, dan lain sebagainya.
Perasaan dan kegelisahan yang diekspresikan lewat musik bukan hanya masalah percintaan, persahabatan, kondisi alam, dan peperangan yang ada di mana-mana – namun juga permasalahan ketidakadilan atau kenyataan hidup yang dianggap timpang akibat ulah sesama manusia maupun oleh pemerintah atau penguasa.
“Lewat musik, audiens lebih mudah mencerna pesan-pesan lewat lirik, karena disampaikan lewat jalinan nada yang disukai banyak orang (sesuai audiens masing-masing genre). Segmentasinya lebih luas dibanding berpidato atau berpuisi,” pungkas Mudya.