Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, lima tahun yang lalu, 14 Juli 2021, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Nyalla Mattalitti mengklaim ulama yang meninggal akibat COVID-19 mencapai 584 orang. Ia meminta kepada para ulama di seantero Indonesia untuk terus waspada selama pandemi.

Sebelumnya, pandemi COVID-19 pernah dianggap remeh. Penularan virus korona dianggap serupa flu biasa. Realita berkata sebaliknya. Virus korona justru membawa kepanikan di mana-mana. Pemerintah pun ikut pusing.

Kehadiran virus korona sempat dianggap remeh di mana-mana. Virus dari Wuhan itu dianggap tak berbahaya. Kadang juga dianggap hanya flu biasa. Tiada yang mampu memprediksi bahwa virus korona bisa menyebar ke seantero negeri.

Anggapan itu kemudian dipatahkan di awal tahun 2020. Virus korona hadir membawa kepanikan di mana-mana. Banyak negara tak sempat melakukan upaya penanggulangan. Alhasil, korban jiwa meningkat tajam.

Virus korona juga membuat ekonomi banyak negara turun pada titik terendah. Kepanikan itu tak segera membuat pemerintah Indonesia segera bergegas melakukan pencegahan. Banyak pejabat menganggap virus korona takkan mampu masuk Indonesia.

Virus itu dianggap tak bertahan dalam iklim tropis. Narasi itu dianggap sebuah pembenaran. Belum lagi Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto ikut meremehkan virus. Ia menganggap virus korona tak lebih dari flu biasa. Alias penyakit yang dapat sembuh dengan sendiri.

Kondisi itu membuat Terawan bak tenang saja kala virus korona terdeteksi masuk pertama kali di Indonesia pada Maret 2020. Sekalipun kemudian membuat kepanikan muncul di mana-mana. Virus menyebar dengan cepat.

"Padahal flu batuk pilek yang biasa terjadi pada kita itu angka kematiannya lebih tinggi daripada yang ini, korona. Tapi kenapa ini bisa hebohnya luar biasa? Saya sebagai menteri kesehatan hanya mengimbau, mau dibikin horor, heboh, atau tidak, itu tergantung kita semua bagaimana sudut pandang kita memberitakannya." ungkap Terawan sebagaimana dikutip lamanCNBC, 2 Maret 2020.

Tiada yang bisa bebas dari COVID-19. Virus itu tak memilih korban. Semuanya bisa jadi korban. Mereka dengan fisik baik bisa jadi korban. Bahkan, mereka dengan profesi pendakwah pun bisa tertular virus korona.

Narasi itu kemudian diamini oleh La Nyalla Mattalitti pada 14 Juli 2020. La Nyala bahkan mengklaim ulama yang menginggal akibat COVID-19 mencapai 584 orang. Angka penularan itu diambilnya dari data Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ia mengungkap ulama yang paling banyak meninggal dunia berasal dari kalangan kiai dan pengasuh pesantren. Utamanya di wilayah Madura, Pati, Kudus, Jepara, hingga Demak. Ia kemudian meminta kaum ulama untuk tetap waspada terhadap COVID-19 dan tak anggap remeh.

"Hampir 600 ulama meninggal di tengah pandemi COVID-19, dan saya yakin daftarnya masih bertambah mengingat lonjakan kasus COVID semakin tinggi. Saya sungguh berduka atas kepergian banyak ulama, guru-guru kita. Belasungkawa saya ucapkan secara khusus kepada keluarga para ulama yang gugur tersebut," ujar LaNyalla sebagaimana dikutip lamandetik.com, 14 Juli 2021.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+