JAKARTA – Sejarah hari ini, enam tahun yang lalu, 7 Juli 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kritik menterinya dalam kabinet Indonesia Maju tak bekerja secara maksimal di tengah pandemi COVID-19. Narasi itu diungkapnya karena kebijakan menteri bekerja dari rumah (WFH) malah serasa cuti.
Sebelumnya, Jokowi berkali-kali meminta kepada bawahannya untuk bekerja maksimal dalam memutus mata rantai penyebaran virus korona. Jokowi meminta supaya keselamatan rakyat jadi yang utama.
Tugas sebagai pemimpin negara tak pernah mudah. Pemimpin harus peka terhadap kondisi rakyat. Pemimpin pula harus mampu membuat kebijakan yang dapat meningkat hajat hidup segenap rakyat Indonesia.
Narasi itu terlihat kala pandemi COVID-19 menghantam Indonesia. Presiden Jokowi tak ingin lepas tangan. Ia mencoba mengamati ragam kesulitan yang rakyat alami selama pendemi. Pengamatan itu membuat Jokowi bergerak cepat merumuskan kebijakan.
Jokowi segera meminta kepada jajarannya dalam kabinet Indonesia Maju untuk peduli kepada rakyat. Pembatasan sosial diberlakukan. Jokowi berpesan kepada menteri-menteri untuk lebih peka. Keselamatan rakyat harus jadi yang utama.
Pesan itu disampaikannya berkali-kali. Namun, pesan Jokowi nyatanya tak banyak membuat menteri berkerja cepat. Banyak di antaranya justru dianggap Jokowi bekerja secara biasa-biasa saja.
Jokowi kemudian marah besar. Kemarahannya diluapkan dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 18 Juni 2020. Jokowi meminta menterinya lebih peka. Ia meminta jangan menganggap COVID-19 sebagai hal yang biasa saja.
BACA JUGA:
Penyebaran virus korona harus dipandang sebagai kejadian yang luar biasa. Pandangan itu dianggap Jokowi akan membuka mata pejabat bagaimana rakyat harus berjuang untuk tetap hidup di tengah ancaman penularan virus korona.
"Kita juga mestinya semua yang hadir di sini sebagai pimpinan, sebagai penanggung jawab, kita yang berada di sini bertanggung jawab pada 260 juta rakyat Indonesia. Tolong digarisbawahi dan perasaan itu tolong sama. Adasense of crisisyang sama. Hati-hati,"
"Jangan biasa-biasa saja. Jangan linear. Jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali. Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apaenggakpunya perasaan,” ujar Jokowi sebagaimana dikutip lamanCNN Indonesia, 18 Juni 2020.
Kemarahan Jokowi tak ungkap sekali saja. Belum satu bulan, Jokowi kembali marah-marah pada 7 Juli 2020. Jokowi menganggap kebijakan WFH yang dijalankan jajaran menterinya tak berjalan secara efektif.
WFH justru membuat menteri-menterinya bekerja secara lambat. Jokowi memandang menterinya tak sedang WFH tapi kebijakan itu serapa seperti cuti tahunan saja. Menterinya banyak malas-malasan.
"Saya minta kita milikisense of crisisyang sama. Jangan sampai tiga bulan lalu kita sampaikan kerja dari rumah, WFH, yang saya lihat ini kayak cuti malahan. Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras, lebih cepat. Itu yang saya inginkan saat kondisi seperti ini," ujar Jokowi sebagaimana dikutip laman YouTubeSekretariat Presiden, 7 Juli 2020.