JAKARTA – Sejarah hari ini, enam tahun yang lalu, 1 Juli 2020, politisi Partai Gerindra, Fadli Zon kritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang marahi menterinya saat Sidang Kabinet Paripurna. Fadli menilai kemarahan Jokowi justru buka borok pemerintah tak bisa kerja.
Sebelumnya, Jokowi kecewa dengan jajaran kabinetnya yang tak bekerja maksimal kala pandemi COVID-19 sedang parah. Menteri-menterinya dianggap bekerja lambat dan tak punya kepekaan terhadap kondisi rakyat Indonesia.
Pandemi COVID-19 bawa masalah besar di Indonesia. Penularannya meningkat tajam hingga korban jiwa berjatuhan. Belum lagi masalah dampak virus korona yang memperparah kondisi perputaran ekonomi di Indonesia.
Kondisi itu membuat segenap rakyat meminta pemerintah bekerja keras memutus mata rantai penyebaran virus korona. Pemerintah kemudian mencoba mendengar rakyat. Empunya kuasa mencoba bekerja keras melawan penyebaran virus korona.
Pemerintah coba melakukan pembatasan sosial. Kegiatan atau tempat yang mengundang kurumunan coba ditutup. Aktivitas bekerja hingga sekolah dibatasi. Namun, Langkah-langkah yang diambil tak lantas membuat angka penyebaran virus korona melandai.

Presiden Jokowi kemudian ambil sikap. Ia berkali-kali mengingatkan kepada jajaran kabinetnya untuk bekerja maksimal membantu rakyat selama pandemi COVID-19. Jokowi ingin memastikan bahwa keselamatan rakyat adalah hal yang utama.
Masalah muncul. Tak semua instruksi Jokowi dijalankan dengan baik. Kondisi itu membuat Jokowi tak mampu lagi menahan amarah. Jokowi kemudian memanfaatkan Sidang Kabinet Paripurna untuk meluapkan kekesalannya pada 18 Juni 2020.
Sidang itu jadi ajang Jokowi memarahi jajaran kabinetnya. Jokowi mengganggap jajarannya tak bekerja maksimal dan lambat kala Indonesia dilanda pandemi COVID-19.
"Kita juga mestinya semua yang hadir di sini sebagai pimpinan, sebagai penanggung jawab, kita yang berada di sini bertanggung jawab pada 260 juta rakyat Indonesia. Tolong digarisbawahi dan perasaan itu tolong sama. Adasense of crisisyang sama. Hati-hati,"
"Jangan biasa-biasa saja. Jangan linear. Jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali. Saya melihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Saya lihat masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya di situ. Ini apaenggakpunya perasaan,” ujar Jokowi sebagaimana dikutip lamanCNN Indonesia, 18 Juni 2020.
BACA JUGA:
Kemarahan Jokowi kemudian memancing ragam komentar. Banyak yang memuji. Banyak pula yang menganggap kemarahan Jokowi sebagai masalah. Narasi itu kemudian diungkap oleh Fadli Zon pada 1 Juli 2020.
Fadli melemparkan kritik kepada Jokowi yang marah-marah ke menterinya. Fadli menganggap Langkah itu dipandangnya sebagai sandiwara. Suatu sandiwara supaya Jokowi melepas tanggung jawab.
Fadli memandang pekerjaan para menteri kerap ditentukan dengan kualitas kepemimpinan Jokowi. Jika kepemimpinan buruk, maka hasilnya buruk. Kondisi itu pula yang membuat Fadli mengungkap ke depan jika ada rakyat yang memandang Jokowi lepas tanggung jawab tak perlu marah.
"Pernyataan presiden kemarin di Istana kan sebuah pengakuan bahwa kinerja sejumlah menterinya itu bermasalah. Pengakuan ini kalau tidak ditindaklanjuti akan mendegradasi atau mendelegitimasi presiden sendiri.”
"Jadi seharusnya presiden ambil langkah atas pidatonya. Kalauenggak, pidatonya dianggap angin lalu saja.Enggakjelas seperti teatrikal saja, yang ujung-ujungnya mau cuci tangan, akan ada anggapan seperti itu," ujar Fadli sebagaimana dikutip lamansuara.com, 1 Juli 2020.