Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 10 tahun yang lalu, 25 Juni 2017, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendukung penuh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pimpin Jakarta. SBY mengungkap tantangan memimpin Jakarta ke depan memang berat, tapi SBY akan turun tangan membantu.

Sebelumnya, tiada yang meragukan tensi panas dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Kontestasi politik itu kemudian mempertemukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melawan Anies Baswedan. Pertarungan sengit antar kedua kubu tersaji.

Upaya merebut kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta tak pernah sepi. Banyak tokoh nasional yang punya minat besar ikut dalam Pilgub DKI Jakarta. Narasi itu karena mereka yang memimpin Jakarta punya kesempatan besar meraih popularitas tinggi dibanding kepala daerah lainnya.

Semuanya karena drama politik Ibu Kota Indonesia kerap mendapatkan sorotan lebih dari media massa. Istimewanya narasi yang sama hadir dalam Pilgub DKI Jakarta 2017. Kala itu dua kandidat kuat siap bertarung.

Mereka adalah Ahok dan Anies. Kedua nama besar itu dianggap punya pendukungnya masing-masing. Ahok memajukan jargon kampanyeKerja Keras Kerja Hebat, sedang Anies punya jargonJakarta Maju Bersama.

Keduanya kemudian terus menyebarkan janji kampanye. Namun, politik pilkada berjalan terlampau jauh. Ahok dalam perjalanannya terganjal kasus penistaan agama. Kondisi itu membuat Anies yang kemudian berpasangan dengan Sandiaga Uno ketimban untung.

Mereka yang dulunya ingin memilih Ahok menyebrang memilih Anies. Dukungan dari tokoh politik nasional kepada Anies-Sandi bejibun. Langkah itu membuat Anies-Sandi menang Pilgub DKI Jakarta pada putaran kedua. Alhasil, Anies-Sandi resmi jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih.

“Anies-Sandi sukses dengan meluncurkan kampanye identitas yang sangat sektarian, termasuk (dengan seruan prejudis) di rumah-rumah ibadah, yang rawan memicu konflik horizontal dan vertikal (karena mantan pasangan Ahok kemudian jadi Presiden). Populisme memang secara sadar diadopsi dan diluncurkan dengan mengorbankan kelompok minoritas demi meraih kursi kekuasaan,” terang Poltak Partogi Nainggolan dalam bukuTransisi dan Kandasnya Konsolidasi Demokratis Pasca-Soeharto(2021).

Kemenangan Anies-Sandi disambut dengan gegap gempita. Banyak di antara tokoh politik nasional ikut memberikan selamat kepada Anies-Sandi. Ambil contoh SBY. Presiden Indonesia era 2004-2014 itu ikut memberikan selamat kepada Anies-Sandi pada 25 Juni 2017.

SBY pun tak hanya memberikan selamat, ia juga tak lupa memberikan dukungan dan membantu jika diperlukan kala Anies-Sandi mulai memimpin Jakarta. SBY mengungkap Anies-Sandi akan mampu memimpin Jakarta walau tantangan ke depan akan berat.

"Ke depan memang berat, ya. Namun semua bisa dilakukan. Kami mendukung," ujar SBY di kediamannya sebagaimana dikutip lamandetik.com, 25 Juni 2017.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+