Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, empat tahun yang lalu, 19 Juni 2022, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tegaskan takkan dukung Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dalam Pilpres 2024. PSI menilai Anies sebagai figur yang bermasalah, utamanya dalam urusan intoleransi dan korupsi.

Sebelumnya, kemunculan Anies sebagai pemimpin DKI Jakarta bawa kehebohan. Segala macam gerak geriknya jadi incaran media massa. Narasi itu membuat popularitas Anies meningkat. Istimewanya beberapa partai mulai mendukungnya maju dalam Pilpres 2024.

Karier politik Anies Baswedan dikenal gemilang. Anies boleh jadi dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pernah jadi rektor Universitas Paramadina. Namun, narasi yang menentukan karier politik Anies adalah kala ia menjelma jadi jubir tim pemenangan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2014.

Anies yakin Jokowi mampu membawa perubahan bagi Indonesia. Anies membela Jokowi dan menepis segala isu negatif terkait junjungannya. Kehadiran Anies membawa pengaruh besar. Jokowi kemudian menang dan jadi Presiden Indonesia.

Anies sendiri kebagian mujur. Ia dapat jabatan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sesuatu jabatan yang sesuai dengan latar belakangannya. Kepemimpinannnya Anies sebagai Mendikbud dimanfaatkan secara maksimal.

Anies coba memajukan pendidikan Indonesia. Namun, aksi Anies memimpin Kemendikbud tak bertahan lama. Ia kemudian kena ganti. Namun, narasi itu tak menutup pintu dunia politik. Anies terus berusaha untuk eksis dalam dunia politik Indonesia.

Anies kemudian melirik hajatan kontestasi politik Pilgub DKI Jakarta 2017. Anies mampu meyakinkan Partai Gerindra bahwa ia adalah pemimpin Jakarta masa depan. Segala macam janji ditebarnya. Puncaknya, Anies menang dan jadi Gubernur DKI Jakarta.

Anies kemudian banyak diuntungkan. Posisi Jakarta yang stategis dalam peta nasional membuatnya kerap kena sorot. Tiada kebijakan Anies yang tak jadi berita nasional, walau beberapa di antaranya berakhir dengan kontroversi.

Belakangan Anies justru jadi salah satu orang yang disukai maju dalam Pilpres 2024. Keinginan itu mulai terlihat dari beberapa parpol yang mulai melirik Anies jadi Capres macam Partai Nasdem.

"Yang kami rekomendasikan pertama, Andika Perkasa. Ini sesuai abjad ya. Kemudian Anies Baswedan, ketiga Ganjar Pranowo," ungkap Ketua DPW Nasdem Yogyakarta, Subardi sebagaimana dikutip lamandetik.com, 16 Juni 2022.

Kemunculan nama Anies Baswedan dalam daftar kuat capres menggema di mana-mana. Namun, ada pula partai yang tak setuju dengan sosok Anies jadi capres. Ambil contoh, PSI. Partai yang mengklaim sebagai partai anak muda itu menegaskan takkan mendukung Anies jadi capres dalam Pilpres 2024 pada 19 Juni 2022.

PSI meyakini bahwa Anies bukan figur yang tepat memimpin negara. Narasi itu karena Anies dianggap punya borok serius. PSI menganggap Anies pernah jadi biang keladi masalah intoleransi yang menyebar di seantero Jakarta kala dirinya ikut Pilgub DKI Jakarta 2017.

Anies pula dianggap bukan figur yang antikorupsi. Pandangan itu diungkap karena persoalan kontroversi hajatan olahraga balap mobil listrik, Formula E. Suatu acara yang dianggap PSI menghamburkan uang dan terindikasi korupsi.

“Menyangkut hal ini, sudah sangat jelas bahwa PSI tidak akan mendukung Mas Anies di Pilpres 2024. Kami memeluk teguh prinsip anti-intoleransi dan antikorupsi. Maka, tak mungkin kami mendukung kandidat yang bermasalah dalam dua atau salah satu prinsip tersebut,” ujar Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie sebagaimana dikutip lamankompas.com, 19 Juni 2022.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+