JAKARTA – Sejarah hari ini, 12 tahun yang lalu, 2 Juni 2014, Wakil Ketua Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo klaim biayai kampanye Joko Widodo (Jokowi) selama Pilgub DKI Jakarta. Biaya yang keluarkan mencapai Rp52 miliar.
Sebelumnya, kehadiran Jokowi dalam peta politik Indonesia bawa kehebohan. Ia dianggap berhasil sebagai kepala daerah. Narasi itu membuat popularitasnya meningkat. Masalah muncul kala Jokowi dijagokan ikut Pilpres 2014 melawan Prabowo Subianto.
Tiada yang meragukan keberhasilan Jokowi sebagai Wali Kota Surakarta era 2005-2012. Jokowi dianggap sebagai pemimpin yang lihai dalam meramu kebijakan dan dekat dengan rakyat.
Segala macam kritik dan masukan diberikan ruang. Narasi itu didukung pula oleh ajian Jokowi blusukan keluar masuk kampung. Ia kerap mendengar sendiri keluhan dari warganya. Gaya blusukan itu kemudian terkenal di seantero negeri. Bahkan, banyak pula kepala daerah yang mulai mengikuti blusukan ala Jokowi.
Hasilnya Jokowi mampu menghasilkan keputusan terbaik. Popularitas Jokowi kemudian meningkat. Figur Jokowi hampir dikenal di seantero Indonesia. Istimewanya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang notabene kendaraan politik Jokowi sedari dulu melihat peluang.
Jokowi dimajukan PDIP sebagai cagub dalam Pilgub DKI Jakarta 2012. Jokowi dipasangkan dengan cawagub dari Partai gerindra, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kedua partai, PDIP dan Gerindra mencoba menanggung segala macam biaya kampanye.
Beda dengan calon lain yang didukung banyak partai dan dana besar. Namun, warga Jakarta yang menentukan. Jokowi-Ahok akhirnya terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru.
BACA JUGA:
Hasil itu membuat Jokowi ketiban durian runtuh. Segala macam gebrakannya selalu menjadi pemberitaan media massa. Narasi itu membuat nama Jokowi menguatkan sebagai kandidat capres dalam Pilpres 2014 mendatang.
“Jokowi dan Basuki barangkali memunculkan harapan bagi penduduk Jakarta: mereka akan memimpin Ibu Kota dengan lebih manusiawi. Ketika memimpin Kota Solo, Jokowi dikenal sangat humanis. Ia, misalnya, meminta Satuan Polisi Pamong Praja ‘mengandangkan’ pentungan dan pistol mereka.”
“Jokowi juga mampu memindahkan kawasan pedagang pasar tanpa gejolak. Ketika menjadi Bupati Belitung Timur, Provinsi Bangka-Belitung, Basuki juga cukup membumi,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudulGubernur Baru Jakarta Lama(2012).
Istimewanya Jokowi kemudian berhasil jadi capres dalam Pilpres 2014. Majunya Jokowi kemudian membawa masalah baru. Jokowi harus melawan Prabowo Subianto yang notabene orang di balik dukungan Gerindra ke dirinya pada Pilgub DKI Jakarta.
Hubungan antara Jokowi dan Gerindra bak retak. Polemik pun muncul. Jokowi seraya tak menganggap dukungan Gerindra penting dan besar dalam Pilgub. Narasi itu membuat Wakil Ketua Pembina DPP Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo angkat bicara pada 2 Juni 2014.
Adik Prabowo Subianto itu menganggap dirinya merasa dibohongi Jokowi selama 1,5 tahun. Ia mengklaim pula bahwa mayoritas dana kampanye Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta dari dirinya. Dana kampanye yang diberikan mencapai Rp52 miliar supaya Jokowi menang Pilgub DKI Jakarta.
"Maaf ya, saya buka saja, saya sudah dibohongi Jokowi 1,5 tahun. Saya kenal Jokowi sejak 2008, yang biayai Jokowi kampanye (pilgub) itu saya, sembilan puluh persen. Saya habis Rp52 miliar," ujar Hashim sebagaimana dikutip lamankompas.com, 2 Juni 2014.