Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, delapan tahun yang lalu, 12 Februari 2018, Wakil Ketua DPR, Fadli Zon pertanyakan gelar Sri Mulyani sebagai menteri keuangan terbaik dunia. Fadli menilai Sri bukan menteri keuangan terbaik karena tiada target pajak hingga pendapatan negara yang berhasil diraih. Belum lagi urusan utang Indonesia yang melonjak.

Sebelumnya, Sri menerima gelar sebagai menteri keuangan terbaik dunia ala World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Penghargaan itu disambut dengan gegap gempita oleh jajaran pemerintah, sekaligus dapat kritik.

Eksistensi Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia kerap mendapatkan pujian dari banyak pihak. Ia dianggap sebagai wanita hebat dalam jajaran kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Semuanya karena Sri dianggap lebih cekatan dari kaum laki-laki dalam atur uang negara.

Ia mampu jadi bendahara negara yang cerdas. Arus keuangan negara teratur. Kondisi itu kemudian dilirik oleh dunia dalam World Government Summit di Dubai. Hajatan itu menunjuk lembaga independen Ernst & Young untuk melakukan seleksi kepada calon menteri keuangan terbaik di dunia.

Fadli Zon dan Sri Mulyani duduk semeja dalam peringatan Hari Perempuan Internasional di DPR, Senin 12 Februari 2018. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Hasilnya Sri Mulyani masuk radar. Puncaknya, Sri pun mendapatkan gelar sebagai menteri keuangan terbaik dunia pada 11 Februari 2018. Gelar itu diberikan langsung oleh pemimpin Dubai, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum.

Penghargaan kepada Sri disambut dengan gegap gempita oleh jajaran pemerintahan Jokowi. Sri sendiri bangga bukan main. Ia mendedikasikan penghargaan itu kepada 257 juta rakyat Indonesia dan segenap jajaran kementerian keuangan.

Sri terus berkomitmen tinggi untuk ciptakan kesejahteraan rakyat yang adil merata. Ucapan selamat pun muncul pula dari Presiden Jokowi. Ia menganggap gelar itu sebagai penanda manajemen ekonomi makro dan pengelolaan APBN serta fiskal di negara kita telah berada pada jalur yang tepat.

"Itu pengakuan dunia dan penghargaan itu juga diserahkan langsung oleh Syekh Mohammad bin Rasyid al-Maktoum (Perdana Menteri Uni Emirat Arab) kepada Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Saya kira tentu saja seluruh masyarakat bangga dan kita sadar bahwa penilaian itu menunjukkan bahwa manajemen ekonomi makro kita serta pengelolaan fiskal dan APBN kita itu pada posisi yang track-nya benar, yang hati-hati, yang sangat efektif," ungkap Jokowi sebagaimana dikutip lamansetneg.go.id, 12 Februari 2018.

Banyak yang memuji, banyak pula mengkritik. Kondisi itu karena ekonomi Indonesia tak banyak mengalami perubahan di era Sri. Kritik paling keras muncul dari Fadli Zon pada 12 Februari 2018. Wakil Ketua DPR itu menganggap Sri bukan menteri keuangan terbaik di dunia.

Ia terus mempertanyakan gelar itu karena prestasi Sri biasa-biasa saja. Fadli menilai pertumbuhan pendapatan dan pajak tak pernah terpenuhi. Sri Mulyani dianggap doyan cabut subsidi dan sering kali hanya andal berbicara pertumbuhan ekonomi dengan tambah utang negara.

"Kok bisa jadi menteri keuangan terbaik ketika target tak ada yang tercapai (pertumbuhan dan pajak), subsidi dicabuti, impor naik, dan utang melonjak," ujar Fadli Zon dalam akunTwitter/X@fadlizon, 12 Februari 2018.