JAKARTA - Sekitar 90 persen manusia di berbagai budaya lebih sering memakai tangan kanan. Pertanyaannya sederhana, kenapa tangan kanan begitu dominan, sementara tangan kiri tetap minoritas?
Menurut laporan The Independent dikutip Jumat, 22 Mei, studi baru yang terbit di jurnal PLOS Biology menyebut kecenderungan itu kemungkinan mulai kuat ketika leluhur manusia berjalan tegak dengan dua kaki dan otaknya berkembang lebih besar.
“Temuan kami menunjukkan hal ini mungkin terkait dengan ciri penting yang membuat kita menjadi manusia, terutama berjalan tegak dan evolusi otak yang lebih besar,” kata Thomas Püschel, salah satu penulis studi dari University of Oxford.
Para ilmuwan meneliti data 2.025 individu dari 41 spesies monyet dan kera. Mereka menguji berbagai faktor, mulai dari penggunaan alat, makanan, habitat, ukuran tubuh, kehidupan sosial, ukuran otak, hingga cara bergerak.
Hasilnya, dua faktor paling kuat adalah ukuran otak dan perbandingan panjang lengan terhadap kaki. Perbandingan ini dipakai ilmuwan untuk melihat kemampuan berjalan dengan dua kaki.
BACA JUGA:
Dengan dua petunjuk itu, peneliti memperkirakan kecenderungan tangan pada leluhur manusia yang sudah punah.
Leluhur awal seperti Ardipithecus dan Australopithecus diduga sudah punya kecenderungan ringan memakai tangan kanan, mirip kera besar modern. Keduanya adalah kelompok manusia purba awal yang hidup jutaan tahun lalu di Afrika dan sudah mulai berjalan dengan dua kaki.
Dominasi tangan kanan lalu tampak makin kuat pada genus Homo, yakni kelompok manusia purba dalam garis evolusi manusia modern. Kelompok ini mencakup Homo ergaster, Homo erectus, dan Neanderthal, manusia purba yang hidup sebelum manusia modern.
Puncaknya terlihat pada Homo sapiens, manusia modern saat ini.
Ada satu pengecualian menarik. Homo floresiensis, manusia purba bertubuh kecil dan berotak kecil dari Indonesia yang kerap dijuluki “hobbit”. Spesies ini diduga memiliki kecenderungan tangan yang lebih lemah. Itu sejalan dengan tubuhnya yang beradaptasi untuk berjalan tegak sekaligus memanjat.
Para ilmuwan menduga berjalan tegak muncul lebih dulu. Saat tangan tidak lagi dipakai untuk bergerak, tangan menjadi bebas untuk membawa, memegang, dan memakai benda.
Otak yang makin besar kemudian memperkuat pola itu. Saat otak tumbuh dan tersusun ulang, kecenderungan ke kanan makin mapan hingga menjadi pola dominan pada manusia modern.
“Ini studi pertama yang menguji beberapa hipotesis utama tentang kecenderungan tangan manusia dalam satu kerangka,” kata Püschel.
Menurut Püschel, perbandingan banyak spesies primata membantu ilmuwan melihat mana ciri yang sudah tua dan diwarisi bersama, serta mana yang khas manusia.
Peneliti selanjutnya ingin mempelajari peran budaya dalam menjaga dominasi tangan kanan di berbagai populasi. Mereka juga ingin menjawab pertanyaan yang masih tersisa, mengapa manusia bertangan kiri tetap bertahan.