Bagikan:

YOGYAKARTA – Pernah mendengar istilah deep brain stimulation (DBS)? Ini adalah prosedur medis yang dilakukan untuk mengobati beberapa penyakit yang berkaitan dengan saraf, seperti penyakit Parkinson, epilepsy, dan distionia.

Prosedur DBS dijalankan ketika obat oral tidak lagi mampu mengendalikan gejala secara efektif atau justru menimbulkan efek samping yang sulit ditoleransi. Karena melibatkan tindakan operasi pada otak, keputusan untuk menjalani DBS memerlukan evaluasi penyeluruh serta perencanaan yang matang bersama tim medis.

Mengenal Apa Itu Deep Brain Stimulation

Dikutip dari laman Cleveland Clinic, deep brain stimulation adalah prosedur medis yang menggunakan arus listrik ringan yang dialirkan ke bagian tertentu di otak. Arus listrik ini berfungsi untuk merangsang sel-sel otak di area tersebut, sehingga dapat membantu mengatasi berbagai kondisi kesehatan. Arus tersebut dihantarkan ke otak melalui satu atau beberapa kabel yang terhubung dengan perangkat kecil yang ditanamkan di bawah kulit, tepatnya di dekat tulang selangka.

DBS bekerja dengan mengirimkan pulsa listrik melalui kabel tipis yang ditanam di otak untuk membantu menormalkan kembali sinyal-sinyal yang tidak seimbang tersebut. Dengan cara ini, fungsi gerakan dapat membaik. Meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, DBS telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala gangguan gerak pada penderita Parkinson, menyadur laman resmi Parkinson Foundation.

Kondisi dan Gejala yang Dapat Ditangani dengan Deep Brain Stimulation

Dikutip dari Cleveland Clinic, deep brain stimulation dapat digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi yang memengaruhi fungsi otak, termasuk gangguan gerakan, gangguan kesehatan mental, serta epilepsi.

Metode ini telah mendapatkan persetujuan dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) sebagai terapi untuk beberapa kondisi berikut:

  • Distonia
  • Tremor esensial
  • Epilepsi yang tidak merespons pengobatan (epilepsi resisten obat)
  • Penyakit Parkinson, terutama ketika kondisi memburuk dan obat tidak lagi memberikan efek optimal
  • Gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) yang tidak merespons pengobatan

Selain itu, prosedur medis ini juga sedang dipelajari dan dikembangkan sebagai alternatif pengobatan yang potensial untuk beberapa kondisi medis lain, seperti:

  • Sindrom Tourette
  • Depresi
  • Demensia
  • Gangguan stress pascatrauma (PTSD)
  • Penyakit Huntington
  • Nyeri kronis
  • Sakit kepala kluster
  • Gangguan kecemasan
  • Kegemukan
  • Skizofrenia
  • Gangguan makan

Peringatan Prosedur Deep Brain Stimulation

DBS termasuk prosedur madis dengan tingkat risiko yang rendah. Akan tetapi, ada beberapa kondisi atau faktor yang membuat prosedur ini tidak dianjurkan atau berisiko tinggi bagi pasien, seperti:

  • Mengalami gangguan pembekuan darah
  • Memiliki infeksi, teritama di sekitar kepala dan leher
  • Menderita penyakit jantung dan penyakit paru-paru yang parah
  • Mengalami gangguan mental berat, seperti halusinasi dan delusi.

Komplikasi Prosedur Deep Brain Stimulation

Deep brain stimulation memiliki risiko komplikasi yang rendah. Meski begitu, tetap ada potensi terjadinya komplikasi/

Berikut beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi setelah menjalani prosedur DBS:

  • Infeksi
  • Perdarahan di lokasi syatan
  • Pembengkakan di dalam atau sekitar otak
  • Koma
  • Stroke

Demikian informasi tentang deep brain stimulation. Dapatkan update berita pilihan lainnya dengan mengunjungi laman VOI.id.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+