Bagikan:

JAKARTA -Di tengah ritme hidup yang serba cepat, rumah kini bertransformasi menjadi benteng pertahanan bagi kesehatan mental. Melalui palet Rhythm of Blues™, Dulux menekankan bahwa warna bukan sekadar elemen estetika, melainkan instrumen penting untuk menciptakan rasa aman dan keseimbangan emosional.

Warna sebagai Jangkar Emosi

Niluh Putu Ayu Setiawati dari AkzoNobel menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Melalui nuansa biru, individu diajak untuk membangun ruang yang personal. Warna di sini berperan sebagai pendukung kekuatan emosional penggunanya, menciptakan suasana yang mendukung ketenangan batin dalam keseharia.

Perspektif Desain dan Kesejahteraan Mental

Ketua IAI Jakarta, Teguh Aryanto, menyoroti pergeseran fokus arsitektur saat ini yang lebih mengutamakan kesejahteraan mental. Penggunaan warna biru dinilai mampu menurunkan intensitas visual dan memberikan rasa stabil. Hal ini sangat krusial agar ruang tidak hanya fungsional secara fisik, tetapi juga mampu menenangkan kondisi psikis penghuninya tanpa terasa kaku.

Solusi untuk Kondisi Neurodiverse

Pentingnya ruang yang tenang juga sangat terasa bagi anak-anak dengan kondisi neurodiverse. Sylvia M. Siregar dari Filoksenia Foundation menekankan bahwa bagi kelompok ini, lingkungan visual yang tepat adalah kunci untuk:

  • Menurunkan kecemasan akibat overstimulasi.
  • Meredam rangsangan visual yang berlebihan di dunia modern.
  • Menciptakan rasa aman yang membantu fokus dan stabilitas emosi.
  • Keseimbangan Energi di Rumah

Dari sisi Feng Shui, pakar Jenie melihat rumah sebagai pusat pengisian energi. Karakter warna biru yang lembut seperti varian Slow, Flow, dan Free membantu penghuninya "menurunkan ritme" setelah beraktivitas padat. Pendekatan ini memastikan rumah menjadi tempat yang efektif untuk memulihkan diri dari tekanan hidup modern.

Rhythm of Blues™ menjadi sebuah pengingat bahwa ketenangan adalah hak setiap orang. Dengan memilih warna yang tepat, kita dapat menciptakan ruang yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi pelindung bagi kesehatan mental kita.