Bagikan:

JAKARTA - Seorang pria yang mempunyai kakak perempuan sering dinilai green flag dalam hubungan romantis. Green flag merupakan istilah yang digunakan untuk perilaku positif dalam hubungan, seperti komunikatif, suportif, hingga bertanggung jawab.

Para ahli mengatakan bahwa kehadiran kakak perempuan bisa memberi pengaruh dalam pembentukan karakter laki-laki. Kakak perempuan sering berperan sebagai figur yang menanamkan sikap menghargai sejak usia dini.

“Sikap penuh perhatian yang benar-benar alami sering kali dibentuk oleh kakak perempuan yang menuntut standar tertentu sejak awal,” kata terapis pasangan berlisensi, Nari Jeter, LMFT, dikutip dari Self Magazine, pada Jumat, 19 Desember 2025.

Kebiasaan sederhana seperti datang tepat waktu, bersikap sopan, atau peka terhadap kebutuhan orang lain sering ditunjukkan oleh kakak perempuan. Tanda disadari, hal ini membentuk perilaku green flag yang terbawa hingga dewasa oleh adik laki-lakinya, terutama dalam hubungan romantis.

Laki-laki dengan kakak perempuan juga akan cenderung lebih empati terhadap pengalaman hidup perempuan. Mereka lebih memahami realitas emosional yang kerap dihadapi oleh perempuan.

“Adik laki-laki yang dekat dengan kakak perempuannya biasanya memiliki rasa hormat dan pemahanan yang lebih dalam terhadap pengalaman hidup perempuan,” kata terapis berlisensi, Erin Runt, LMFT.

Mereka akan terbiasa mendengar cerita soal patah hati, diskriminasi, hingga tantangan biologis seperti menstruasi yang dialami perempuan. Paparan ini menjadi pondasi bagi adik laki-laki membentuk perilaku green flag, karena empati tidak dibangun dari teori, melainkan melalui pengalaman sehari-hari.

Salah satu ciri green flag pria yang sering dicari dalam hubungan romantis adalah kemampuan menunjukkan emosi secara sehat. Dalam budaya maskulinitas toksik pria, mereka sering menekan perasaan.

Namun, dengan kehadiran kakak perempuan dapat menjadi penyeimbang. Kakak perempuan cenderung tidak menghukum adik laki-lakinya karena menangis atau mengungkapkan perasaan, yang membentuk pribadi mereka lebih terbuka, tidak defensif, dan mampu hadir secara emosional yang baik untuk hubungan romansa.

“Ini menciptakan ruang aman, di mana menunjukkan emosi bukan dianggap kelemahan, melainkan hal yang manusiawi,” pungkas Jeter.