JAKARTA — Rangkaian Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 resmi ditutup di Jakarta, Minggu, 14 Desember. Penutupan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, menandai akhir perjalanan FTI setelah digelar di Medan, Palu, dan Mataram.
FTI 2025 bukan sekadar pentas. Festival ini menjadi ajang seleksi dan sirkulasi ide terbesar teater nasional tahun ini. Sebanyak 213 kelompok dan seniman dari 95 kabupaten/kota di 25 provinsi mendaftar. Dari jumlah itu, 16 kelompok terpilih dan empat undangan tampil di Jakarta.
Festival hasil kolaborasi Titimangsa dan PENASTRI ini didukung Kementerian Kebudayaan. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan FTI menjadi simpul penting distribusi gagasan dan praktik teater lintas daerah. “Teater merekam keragaman ekspresi budaya Indonesia. Bukan sekadar diversity, tetapi mega diversity,” ujar Fadli Zon.
FTI 2025 mengusung tema Sirkulasi Ilusi, yang menyoroti pertemuan realitas sosial dan representasi panggung. Tema ini diterjemahkan lewat alih wahana karya sastra Indonesia ke bentuk pertunjukan teater.
BACA JUGA:
Sejumlah karya dipentaskan gratis untuk publik, di antaranya Burung Manyar Kita (Ambon), Hikayat Asampedas/Aroma Bomoe (Banda Aceh), Roh (Gowa), Panggil Aku Sakai (Pekanbaru), dan Rintrik (Jakarta Timur).
Di penghujung acara, Fadli Zon menyerahkan Lifetime Achievement Award kepada Putu Wijaya atas kontribusi panjangnya dalam dunia teater dan sastra Indonesia.
FTI Jakarta menutup rangkaian festival di empat kota sekaligus menegaskan posisi FTI sebagai platform nasional distribusi karya dan penguatan ekosistem teater Indonesia.