JAKARTA - Di tengah dinamika peran orang tua, antara harapan memberi rasa aman dan kenyataan menghadapi kerentanan emosional, muncul istilah yang cukup menggugah yaitu eggshell parenting. Istilah ini menggambarkan pola pengasuhan di mana anak merasa seperti harus berjalan di atas cangkang telur karena respon orang tua yang tidak terduga atau instabilitas emosional. Sementara niat baik sering mendasari, konsekuensi jangka panjangnya bisa cukup serius bagi perkembangan emosional anak.
Dilansir dari Parents, Jumat, 14 November, Istilah Eggshell Parenting dipopulerkan oleh seorang psikiater yang membahas bagaimana anak-anak kerap hidup dalam ajang berjaga-jaga terhadap kondisi emosional orang tua mereka. Rasa aman yang diharapkan ternyata bisa dengan cepat berubah menjadi ketidakpastian.
Ketika orang tua memiliki mood yang tidak stabil, ledakan emosi yang tiba-tiba, atau perilaku inkonsisten, anak akan merasa harus membaca situasi sambil berharap tak membuat ‘bom waktu’ orang tua meledak.
Para terapi dan psikiater menyebutkan bahwa sering kali orang tua yang menggunakan gaya ini tidak melakukannya dengan sengaja. Melainkan sebagai upaya terbaik mereka mengatur diri sendiri ketika fondasi emosional mereka sendiri belum stabil.
Dampaknya? Anak bisa tumbuh dengan kecemasan yang persisten, suasana hati yang tidak stabil, atau bahkan depresi, karena mereka menanggung beban kestabilan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.
Salah satu perbedaan utama antara eggshell parenting dan ledakan kemarahan sesekali adalah konsistensi dan responsibilitas. Orang tua biasa mungkin marah satu dua kali, lalu minta maaf atau membicarakannya. Sedangkan orang tua dengan pola eggshell cenderung memunculkan mood yang tak terduga dan jarang mengambil tanggung jawab atas reaksi mereka.
BACA JUGA:
Namun, kabar baiknya: siklus ini bisa diputus. Langkah pertama adalah memiliki kesadaran diri, bertanya pada diri sendiri apakah orang lain sering menghindar karena khawatir bagaimana reaksi Anda, apakah Anda sulit diprediksi.
Selanjutnya, ada baiknya mempertimbangkan konflik lama yang belum selesai, melakukan pembicaraan terbuka, dengan batasan dan ekspektasi yang jelas, dan bila perlu, mencari bantuan profesional seperti terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau terapi interpersonal untuk membangun fondasi emosional yang lebih sehat.
Bagi orang tua yang ingin menciptakan lingkungan di rumah yang stabil dan aman secara emosional, penting menyadari bahwa bukan kesempurnaan yang menjadi tujuan, melainkan konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan untuk memperbaiki ketika terjadi kesalahan. Dengan demikian, anak-anak tidak harus terus menerus “melangkah di atas cangkang”, melainkan bisa benar-benar merasa aman berlari, jatuh, dan bangkit dengan dukungan yang sehat.
Diharapkan, artikel ini dapat menginspirasi refleksi dan mendorong perubahan positif dalam gaya pengasuhan, demi generasi yang tumbuh dengan rasa aman, bukan rasa takut akan ledakan yang tak terduga.