Bagikan:

JAKARTA — Festival film Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali membuktikan diri sebagai salah satu festival film paling bergengsi di Asia. Tahun ini, JAFF mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah pendaftar dan siap menayangkan ratusan film dari berbagai negara.

Program Director JAFF, Alexander Matius, mengungkapkan bahwa antusiasme para sineas untuk berpartisipasi tahun ini meningkat pesat.

“Tahun ini jumlah pendaftar naik dari 784 tahun lalu menjadi 894,” ujar Alexander Matius dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu, 5 November.

Dari ratusan film yang mendaftar, JAFF akan menayangkan total 227 film pilihan yang berasal dari 43 negara berbeda.

“Tahun lalu di bawah 200, tahun ini ada 227,” tambahnya.

Untuk mengakomodasi jumlah film yang meningkat, JAFF menambah satu studio pemutaran di lokasi utamanya.

“Tahun ini kami akan menayangkan semua film di enam studio Empire. Jadi nambah satu studio,” jelas Alexander.

Peningkatan skala ini menunjukkan posisi JAFF yang semakin kuat di kancah perfilman internasional. Tidak hanya memperbanyak jumlah film, JAFF juga memperluas cakupan genrenya dengan memperkenalkan beberapa program baru yang inovatif.

Dua di antaranya adalah “Transcendence” untuk film eksperimental dan “Resonance” untuk branded content.

“Program baru di JAFF, pertama namanya Transcendence. Fokusnya pada film-film eksperimental,” ungkap Alexander.

Selain itu, JAFF juga merangkul karya audio visual dari dunia fesyen dan musik melalui program “Resonance” dan “Sound-dis.”

“Resonance ini mirip dengan konsep branded content. Tahun ini kami bekerja sama dengan Sejauh Mata Memandang,” katanya.

“Untuk Sound-dis, tahun ini ada dua karya, yaitu Galura Tropikalia dari The Panturas dan Harapan, video musik dari The Adams,” pungkasnya.