JAKARTA — Astrid Kuya mengaku masih trauma dan takut usai rumahnya menjadi sasaran penjarahan saat aksi demonstrasi menolak kenaikan gaji anggota DPR RI beberapa waktu lalu.
"Kalau aku, eh, pasti trauma, pasti takut pada saat itu," kata Astrid Kuya dikutip VOI dari kanal YouTube Trans7 Official, Jumat, 31 Oktober.
Astrid menjelaskan bahwa rasa takutnya bukan hanya karena kehilangan barang, tetapi juga karena memikirkan keselamatan keluarganya yang berada di rumah tersebut.
“Tapi yang paling bikin aku sedih itu sebenarnya ke keluarga ya. Karena rumah itu kan yang menempati mamaku,” ujarnya dengan nada haru.
Dalam situasi genting tersebut, Astrid mengaku hanya bisa berpegangan tangan dengan sang suami, Uya Kuya, dan berusaha mengikhlaskan barang-barang pribadi mereka yang dijarah oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Aku malah berpikir pada saat itu, aku tuh udah ikhlas. Waktu orang-orang datang itu, aku langsung pegang tangan suamiku dan bilang, ‘Yang, kita ikhlas ya?’,” cerita Astrid.
BACA JUGA:
Uya Kuya yang berada di tempat berbeda saat kejadian juga mengonfirmasi bahwa mereka sempat memantau situasi melalui sambungan video call dari timnya yang masih berada di lokasi.
“Karena kita lihat videonya, video call kan sama tim kita yang masih di sana. Pas dibilang, ‘Mas Uya, masuk orang, nembus!’ ya udah, kita bilang ikhlas aja. Aku matiin video call-nya, nggak mau lihat lagi, biarin aja,” tutur Uya.
Meski mengalami kerugian akibat peristiwa tersebut, Uya menegaskan bahwa dirinya tidak menyesal pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI, meski kini statusnya dinonaktifkan sementara.
“Enggak. Gua nggak pernah menyesali apa yang terjadi dalam hidup gue. Toh, kuliah gue juga sarjana politik,” pungkasnya.