Bagikan:

JAKARTA - Beberapa tahun terakhir, lari menjadi salah satu olahraga yang sangat populer dan diminati oleh banyak orang. Lari kini juga bukan hanya dinilai sebagai olahraga, tetapi juga bisa menjadi wadah untuk berbuat kebaikan.

Salah satunya adalah untuk membantu pendidikan yang lebih setara. Terutama di Indonesia, akses pendidikan tinggi masih belum merata dan menjadi tantangan besar.

Berdasarkan data BPS 2024, angka partisipasi kuliah (APK) nasional baru mencapai 32 persen. Ini artinya hanya tiga dari sepuluh anak SMA yang dapat melanjutkan kulit.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masih banyak anak muda berprestasi yang terhambat mengakses pendidikan karena keterbatasan ekonomi. Hal ini harus diatasi dan dibutuhkan kerja sama berbagai pihak, agar terbangun pendidikan yang setara di Indonesia.

Dengan demikian, Salam Setara, Sekolah Murid Merdeka, SalingJaga, dan KitaBisa berkolaborasi menyelenggarakan Run With The Bunch (RWTB). Ini adalah sebuah kegiatan lari atau charity fun run sejauh 5 km, yang menggabungkan semangat olahraga dan kepedulian sosial.

Hasil dari kegiatan lari tersebut akan disalurkan untuk membantu siswa prasejahtera melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi. Bantuan tersebut diharapkan bisa memberikan siswa tetap bisa mengakses pendidikan tinggi meskipun terhalang ekonomi.

“Kami percaya bahwa pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi bagi seseorang. Salam Setara ingin mengajak berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam mewujudkan harapan bahwa pendidikan tinggi bisa diakess semua orang, khususnya dari keluarga prasejahtera,” kata Executive Director Salam Setara, Ahmad Mujahid, saat konferensi pers di Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2025.

Run With The Bunch juga akan menghadirkan pengalaman sosial bernuansa masa sekolah dengan berbagai aktivitas seru. Seperti pemberian medali, kompetisi cerdas cermat, hingga booth jajanan nostalgia.

Terdapat juga area donasi buku yang akan disalurkan kepada sekolah, taman baca, dan panti asuhan. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran sosial dan membuka ruang kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat.

“Isu pendidikan itu kompleks. Tapi lewat kegiatan seperti ini, masyarakat bisa lebih dekat dan memahami tantangan yang dihadapi siswa kurang mampu. Bahkan, percakapan sederhana ‘kenapa kita lari’ bisa membuat kesadaran baru soal akses pendidikan,” tutur Co-Founder Sekolah Murid Merdeka, Radinka Qiera.

BACA JUGA:


- https://voi.id/lifestyle/528455/sabrina-chairunnisa-gugat-cerai-deddy-corbuzier

- https://voi.id/berita/519565/evaluasi-mbg-komisi-ix-dpr-ingatkan-fungsi-ahli-gizi-di-sppg

- https://voi.id/lifestyle/509662/budaya-kerja-sehat-yang-bikin-karyawan-betah-dan-semakin-produktif

- https://voi.id/info-sehat/509461/ahli-sebut-stres-selama-kehamilan-berkaitan-dengan-risiko-epilepsi-lebih-tinggi-pada-anak

[/see_also]

Selain itu, acara ini juga bisa menjadi wadah bagi masyarakat yang suka lari untuk semakin merasakan makna kebaikan dari olahraga tersebut. Tak sekadar untuk kesehatan, tetapi juga sebagai momen berbagi dan menjadi gaya hidup baru.

Sekarang, publik nggak cuma ingin berdonasi, tetapi juga ingin merasakan makna di balik aksi kebaikan itu sendiri. Berlari jadi salah satu cara paling menarik, karena setiap langkah bisa punya makna sosial. Ini bukti kalau kebaikan bisa jadi bagian dari gaya hidup, bukan cuma momen sesaat,” pungkas CEO Kitabisa Group, Vikra Ijas.