Bagikan:

YOGYAKARTA - Bukti teori Persia dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia menjadi salah satu pembahasan penting dalam studi sejarah Nusantara.

Teori ini menyebut bahwa penyebaran Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh para ulama dan pedagang dari Persia yang membawa ajaran, budaya, dan tradisi Islam ke tanah air.

Menurut pandangan ini, Islam yang masuk ke Indonesia bukan dibawa langsung oleh bangsa Arab atau India, melainkan melalui pengaruh budaya dan ajaran keagamaan dari Persia.

Menariknya, pengaruh Persia terlihat dari berbagai aspek, mulai dari sistem pendidikan Islam, kesenian, hingga perayaan keagamaan seperti peringatan Asyura. Melalui hubungan dagang dan keagamaan yang erat, unsur-unsur budaya Persia perlahan berbaur dengan budaya lokal dan membentuk identitas Islam khas Indonesia.

Bukti Teori Persia yang Kuat Pengaruhnya

Dilansir dari MUSHAF JOURNAL : Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis, Vol. 5 No. 2 Agustus 2025, dasar dari Teori Persia adalah ditemukannya sejumlah unsur kebudayaan Persia, khususnya yang berkaitan dengan tradisi Syiah, dalam praktik keislaman masyarakat Nusantara.

Pandangan mengenai Teori Persia juga mendapat dukungan dari beberapa ahli, salah satunya adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat, seorang sejarawan terkemuka Indonesia.

Alasan Pendukung Teori Persia

Hoesein Djajadiningrat mengemukakan jika terdapat beberapa alasan yang memperkuat teori ini, di antaranya:

  • Pengaruh Sufisme Persia

Menurut Hoesein Djajadiningrat, ajaran sufisme Persia memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan mistisisme Islam di Indonesia. Konsep manunggaling kawula gusti yang diajarkan oleh Syeikh Siti Jenar, misalnya, mencerminkan doktrin wahdat al-wujud yang diperkenalkan oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi terkenal dari Persia.

Baca juga artikel yang membahas Filosofi Kebaya: Jejak Sejarah dan Makna Budaya yang Tersembunyi

  • Penggunaan Istilah Persia dalam Pengajaran Al-Qur’an

Dalam sistem mengeja huruf Arab di pesantren-pesantren tradisional, terutama di daerah pedalaman Banten, masih digunakan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Persia.

Ajaran tersebut, misalnya, jabar (Arab: fathah) untuk menghasilkan bunyi “a”, jar (Arab: kasrah) untuk menghasilkan bunyi “i” atau “e”, serta pes (Arab: dhammah) untuk menghasilkan bunyi “u” atau “o”. Hingga kini, sebagian santri masih menghafal dengan cara membaca “alif jabar a, alif jar i, dan alif pes u/o”.

  • Tradisi Peringatan Asyura

Peringatan Asyura, yang jatuh pada 10 Muharram, merupakan tradisi penting dalam komunitas Syiah untuk mengenang gugurnya Sayyid Husain bin Abi Thalib di Padang Karbala.

Tradisi ini juga dikenal di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jawa, Aceh, dan Minangkabau, yang memperingatinya dengan membuat bubur Asyura.

Bahkan di wilayah barat Sumatera Tengah, masyarakat melaksanakan upacara Tabut, yaitu prosesi membawa replika keranda Husain yang kemudian dihanyutkan ke sungai atau laut. Replika keranda tersebut disebut Tabut, yang berasal dari bahasa Arab.

Melalui bukti-bukti di atas, teori Persia menunjukkan bahwa pengaruh budaya, ajaran sufisme, dan tradisi keagamaan dari Persia memiliki peran penting dalam membentuk karakter Islam di Indonesia.

Adapun jejak teori Persia masih dapat ditemukan dalam praktik keagamaan, bahasa pengajaran Al-Qur’an, hingga tradisi peringatan keagamaan masyarakat Nusantara.

Selain pembahasan mengenai bukti teori persia​, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di  VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!