Bagikan:

JAKARTA – “Peradaban Melayu adalah salah satu peradaban tua yang kaya ekspresi budaya. Forum ini momentum penting memastikan peradaban Melayu tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tegas Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon saat menyampaikan pidato kunci dalam Konferensi Internasional Peradaban Melayu Dunia di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, Rabu, 17 September.

Konferensi bertema “Memperkuat Hubungan Kohesif dalam Menghadapi Tantangan Peradaban Baru Dunia” ini mempertemukan cendekiawan, peneliti, seniman, dan pecinta warisan Melayu untuk menjaga kekayaan budaya sekaligus mendorong inovasi agar tetap relevan dengan zaman serta memperkuat jejaring kolaborasi lintas negara.

Menbud Fadli membeberkan Indonesia menyimpan kekayaan budaya luar biasa: 2.213 warisan budaya tak benda telah terdaftar secara nasional dan potensinya mencapai 50 ribu, mulai dari ritus, manuskrip, tradisi lisan, permainan dan olahraga tradisional, sastra, film, musik, teater, hingga tari. “Banyak sekali ekspresi budaya kita yang sangat kaya. Kekayaan budaya Indonesia ini bisa kita sebut sebagai mega diversity,” ujarnya.

Ia juga menyoroti diaspora Melayu yang besar dan tersebar di seluruh dunia, termasuk di Cape Town, Afrika Selatan. “Namun banyak dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia-Melayu, padahal memiliki ikatan batin dengan Indonesia. Ini patut menjadi PR kita bersama,” jelasnya.

Menurut Menbud Fadli, Melayu adalah simpul peradaban maritim yang sejak abad ke-7 Masehi menjadi jalur ekonomi penting menghubungkan India, Tiongkok, Timur Tengah hingga Afrika. Bahasa Melayu tercatat dalam Prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuwo (683 M), dan Karang Berahi (686 M). Bahasa ini kemudian berkembang menjadi lingua francaAsia Tenggara dan pada 28 Oktober 1928 diresmikan sebagai Bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia menjadi binding power yang menyatukan nusantara. Salah satu warisan budaya Melayu yang luar biasa,” katanya.

Ia mengingatkan ancaman erosi identitas budaya di tengah arus globalisasi, seperti pengaruh nilai luar dan fragmentasi narasi sejarah antarnegara Melayu. “Forum ini momentum menguatkan kembali semangat kohesi bangsa-bangsa serumpun Melayu. Melalui solidaritas budaya kita bukan hanya menjaga warisan, tapi menghidupkan kerja sama nyata,” tandasnya.

Wakil Rektor UNAS Ernawati Sinaga berharap konferensi ini melahirkan kolaborasi dan rekomendasi kebijakan untuk menjaga peradaban Melayu. Ketua Presidium Iskandarsyah Siregar menambahkan, konferensi yang digagas bersama University of Malaya sejak dua tahun lalu ini menghadirkan sesi presentasi, lokakarya, dan diskusi panel terkait warisan Melayu, teknologi informasi, sosiologi, pendidikan hingga linguistik terapan.