Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Kebudayaan meresmikan SANFFEST 2025 (Santri Film Festival) di Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan, Minggu (7/9). Festival ini mengusung tema “Dari Jendela Santri, Memandang Dunia”, menegaskan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi pesantren, melainkan aktor penting diplomasi kebudayaan Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan, SANFFEST 2025 bukan sekadar ajang perfilman. Festival ini adalah gerakan budaya yang menjadikan pesantren pusat inspirasi peradaban. Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren, jumlah terbanyak di dunia. Tradisi yang berabad-abad hidup di pesantren kini dikenalkan lewat film, menjadi medium dakwah sekaligus jembatan diplomasi budaya.

“Film adalah soft power. Di dalamnya ada seni akting, sastra, musik, fesyen, hingga kuliner. Melalui film, nilai dakwah bisa disampaikan dengan cara halus namun kuat. Negara-negara maju sudah lama memanfaatkan kekuatan budaya ini,” ujar Menbud Fadli Zon.

Ia menambahkan, sejak 1987 musik sudah dipakai sebagai media dakwah, membuktikan tradisi selalu berdialog dengan zaman. “Wayang, keris, hingga budaya lokal dipakai para wali sebagai sarana dakwah. Islam tidak menghancurkan tradisi, tapi merangkul esensi nilainya,” jelasnya.

Menbud Fadli berharap SANFFEST berkelanjutan, dilengkapi lokakarya, pelatihan skenario, manajemen talenta, hingga komunitas film pesantren. “Pesantren punya posisi penting dalam pelestarian dan pengembangan budaya,” tegasnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, K.H. Sofwan Manaf, menambahkan, tantangan terbesar adalah menyiapkan santri menghadapi teknologi. “Dengan UU Pesantren 2019, kini ada dukungan nyata. Santri belajar agama sekaligus ilmu umum, psikologi, teknologi, hingga perfilman. Ini penting agar mereka siap menghadapi dunia modern,” katanya.

Festival yang pertama kali digelar ini menampilkan karya film santri dari seluruh Indonesia, diskusi panel, dan forum internasional. SANFFEST lahir dari kesadaran bahwa film adalah bahasa universal paling efektif menyebarkan pesan damai dan narasi positif tentang kehidupan pesantren: penuh ilmu, toleransi, dan kreativitas.

Kementerian Kebudayaan menargetkan lahirnya ekosistem kreatif baru di pesantren. Santri didorong menjadi penulis skenario, sutradara, hingga produser, sekaligus membangun narasi damai dan mematahkan stereotip. Lewat karya sinematik, pesantren diharapkan menjadi wajah diplomasi budaya Indonesia di panggung global.