Bagikan:

YOGYAKARTA – Setiap kisah cinta memiliki keunikan masing-masing. Ketika menjalin hubungan romantis, ada yang didasari cinta yang tumbuh perlahan. Tetapi tak sedikit pula hubungan romantis yang dijalin secara terburu-buru. Menurut psikolog Robert Sternberg melalui teori segitiga, cinta terdiri dari tiga elemen utama, yaitu keintiman (intimacy), gairah (passion), dan komitmen (commitment).

Hubungan romantis yang didasari cinta terburu-buru, disebut fatuous love, memiliki risiko tertentu. Karena termasuk bentuk hubungan yang didorong oleh gairah dan komitmen tanpa kedekatan emosional berikut dijelaskan risiko yang mungkin dialami.

1. Fondasi emosional yang lemah

Keintiman tidak bisa dibangun dalam semalam. Butuh waktu, kepercayaan, dan proses saling mengenal untuk bisa merasa benar-benar dekat secara emosional. Ketika hubungan terburu-buru hanya mengandalkan rasa tertarik dan komitmen kilat, fondasi emosional sering kali rapuh. Saat konflik muncul, hubungan cenderung rentan pecah karena belum ada pemahaman yang dalam satu sama lain.

risiko hubungan romantis yang dijalin secara terburu-buru
Ilustrasi risiko hubungan romantis yang dijalin secara terburu-buru (Freepik)

2. Ketidakcocokan yang tersembunyi di awal

Pada awal hubungan, semuanya terasa manis. Tapi ketika fase bulan madu selesai, barulah muncul perbedaan nilai, tujuan hidup, hingga kebiasaan yang ternyata tidak cocok. Mengutip Marriage, Kamis, 17 Juli, hubungan yang terlalu cepat melangkah sering kali melewatkan proses penting ini, sehingga bisa memicu friksi besar di kemudian hari.

3. Rentan gagal menghadapi konflik

Pasangan yang belum benar-benar mengenal satu sama lain cenderung kesulitan menyelesaikan konflik. Ketika ada perbedaan pendapat, tidak ada kemampuan beradaptasi yang cukup karena belum terbangun rasa saling percaya atau toleransi yang sehat. Maka, pertengkaran kecil bisa berkembang menjadi masalah besar.

4. Ilusi cinta sempurna

Gairah yang kuat bisa menciptakan efek "cinta buta". Semua terasa sempurna di awal, dan segala kekurangan seperti tertutupi oleh euforia. Sayangnya, ketika realitas datang menghantam, entah soal gaya hidup, keuangan, atau kebiasaan ilusi itu bisa runtuh, dan rasa cinta pun ikut menguap.

5. Penyesalan akibat keputusan terburu-buru

Banyak yang menyesal setelah memutuskan menikah atau hidup bersama terlalu cepat. Ketika komitmen sudah terlanjur dijalani, tetapi tidak ada kenyamanan emosional di dalamnya, hubungan bisa berubah menjadi beban. Rasa terjebak, kecewa, bahkan trauma emosional bisa muncul jika tak segera disadari dan dibenahi.

Selain memahami risiko hubungan romantis yang terjalin secara terburu-buru, penting juga merefleksikan alasan kenapa tak pikir panjang dalam menjalin komitmen serius. Seperti karena terbawa euphoria atau ketertarikan fisik yang kuat, takut kesepian atau tekanan usia untuk segera punya pasangan, ingin cepat merasa “settle” secara sosial, ataupun bisa karena menghindari luka batin dari hubungan sebelumnya.

Perlu dipahami secara matang, bahwa hubungan cinta yang sehat membutuhkan waktu dan kesadaran, bukan gairah sesaat. Artinya, hubungan romantis yang didasari cinta, perlu dibangun secara bijak. Bukan ingin segera, tetapi mengabaikan ketulusan dan kedewasaan dalam menghadapi kenyataan bersama.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+