REMBANG - Perjuangan Raden Ajeng (R.A) Kartini dalam emansipasi wanita, pendidikan, dan kesetaraan sosial masih relevan hingga kini. Meski sudah lebih dari satu abad sejak kepergiannya, semangatnya terus menginspirasi perempuan Indonesia untuk terus berjuang meraih kesetaraan dan hak-hak, serta membangun masyarakat yang lebih adil.
Untuk mengenang jasa-jasanya, maka melanjutkan perjuangan beliau adalah wajib bagi masyrakat Indonesia. Tak hanya dalam bentuk seremoni, tetapi melalui aksi nyata yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kegiatan revitalisasi Taman Inspirasi di kawasan Museum R.A. Kartini, Rembang, yang diinisiasi oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama gerakan Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling).
“Museum Kartini merupakan sebuah bukti dan momentum bersejarah tentang perjalanan emansipasi wanita di Indonesia,” ungkap Mutiara Diah Asmara, Director, Communications Djarum Foundation, saat ditemui di Museum R.A. Kartini Rembang, Jawa Tengah pada Selasa, 27 Mei.
Ia menegaskan bahwa anak-anak Kartini masa kini bukan hanya simbol ketangguhan perempuan, tetapi juga refleksi pemberdayaan ekonomi, keberanian, dan kemandirian.
"Kartini bukan hanya seorang pahlawan pada zamannya. Visi dan cita-citanya masih sangat relevan dengan kita hari ini,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut tidak hanya menyentuh sisi historis Kartini, tetapi juga menyiratkan pentingnya menjadikan nilai-nilai perjuangannya sebagai panduan dalam mengisi ruang-ruang modern saat ini, terutama bagi generasi muda.
Museum R.A. Kartini di Rembang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan artefak dan dokumentasi sejarah, melainkan juga ruang yang merekam semangat perjuangan emansipasi perempuan Indonesia.
Salah satu sudut ruang di museum Kartini (VOI/Adelia)
Djarum Foundation bersama lebih dari 50 mahasiswa peduli lingkungan dari gerakan Siap Darling menggagas kegiatan revitalisasi Taman Inspirasi Kartini sebagai wujud konkret dari cinta lingkungan dan penghormatan terhadap sejarah.
“Kami akan melakukan aksi sadar lingkungan yang merupakan langkah nyata generasi muda dalam menjaga bumi sekaligus merawat warisan sejarah bangsa,” kata Mutiara.
Dalam aksi ini, ditanam berbagai jenis pohon dan semak berbunga seperti kalatea, soka, kacapiring, gardenia, sabrina, serumbet kuning, melati Belanda, melati Jepang, cendrawasih, pacar Cina, lili Paris, kacang hias, serta mengkudu sebagai pewarna alami batik.
Lebih dari sekadar penghijauan, kegiatan ini juga membawa misi pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif. Tanaman seperti akar mengkudu memiliki nilai penting sebagai bahan pewarna alami batik, yang menjadi andalan industri kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Ini menjadi pengingat bahwa pelestarian alam dan budaya bisa berjalan seiring, dan keduanya dapat mendukung ekonomi lokal.
Triana Husnul Khotimah, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, mengapresiasi kegiatan ini dan menyebut Museum Kartini sebagai destinasi wisata edukatif yang harus terus berinovasi agar tetap menarik.
"Kalau tidak ada inovasi, pengunjung pasti akan bosan. Kehadiran taman dan revitalisasi kawasan museum dapat menumbuhkan rasa ingin tahu pengunjung, khususnya pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mempelajari sejarah Kartini lebih dalam," ucap Triana.
Museum bukan hanya ruang nostalgia, tetapi juga tempat refleksi dan pembelajaran. Dengan adanya Taman Inspirasi yang indah dan edukatif, museum ini bisa menjadi ruang publik yang menginspirasi lintas generasi.
BACA JUGA:
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Mardi menekankan bahwa revitalisasi ini bukan hanya proyek fisik, tetapi juga bagian dari ikhtiar budaya. Ia mengungkapkan harapan agar Taman Inspirasi ini menjadi ruang hidup yang ramah bagi semua kalangan, tempat belajar, serta sumber inspirasi yang terus menyala.
Kegiatan revitalisasi Taman Inspirasi di kawasan Museum R.A. Kartini (VOI/Adelia)
“Melalui Aksi Darling, kita menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dalam skala besar. Justru aksi nyata di ruang-ruang lokal seperti ini dapat menanamkan nilai cinta lingkungan dari masyarakat, dari anak muda, dan dari kesadaran bersama,” ujar Mardi.
Keberhasilan revitalisasi Taman Inspirasi di kawasan Museum R.A. Kartini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, yakni pemerintah daerah, Djarum Foundation, komunitas lingkungan, relawan muda, pelajar, dan masyarakat sekitar. Kolaborasi ini menjadi cerminan semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa.
“Penanaman pohon ini seperti amal jariyah. Jika pohonnya tetap berdiri, maka amalnya terus mengalir." kata Triana.
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa upaya kecil yang dilakukan hari ini bisa berdampak besar di masa depan. Revitalisasi Taman Inspirasi di Museum R.A. Kartini bukan hanya sekadar aksi penghijauan atau perbaikan fasilitas, tetapi juga simbol kuat dari bagaimana semangat Kartini terus hidup dan berkembang dalam bentuk yang baru.