Menikmati Kembali Album <i>Kampungan</i> Sambil Nunggu Konser 3 Eks Personel Slank
Ilustrasi album Kampungan milik Slank (Yudhistira Mahabharata/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Kebanyakan penggemar musik rock - khususnya Slanker angkatan lama - berpendapat, lima album pertama Slank tidak tertandingi album-album setelahnya. Tidak bisa dibantah. Tapi, semua tergantung selera dan dari sudut pandang mana orang menilainya. 

Lima album pertama Slank merupakan karya seni kekal yang meninggalkan memori bagi sekumpulan anak muda era 90-an. Dari sisi musik hingga lirik, mewakili setiap jejak langkah mereka. Sekarang kita bicara Kampungan - dirilis Desember 1991 - album yang merepresentasikan mahakarya dahsyat rock n’ roll. Saat itu, nyaris tidak ada album lokal yang bisa menggilas kemahsyuran dan keajaiban album ini. 

Selain vokal melengking Kaka masih digdaya, bebunyian kibor Indra Qadarsih yang unik dan penuh intrik juga menjadi kekuatan album ini. Belum lagi gaya bermain gitar Pay yang penuh magis serta kejeniusan dua penjaga fondasi; Bongky (bass) dan Bimbim (drum). 

Dengan latar belakang musik jazz yang dimiliki seorang Indra, ciri khas album ini seakan bermuara pada jemarinya. Ya, dia mampu mengolah alur lagu sesuai yang diinginkan Slank. 

Setelah dibumbui Pay, Bongky, dan Bimbim, giliran Kaka yang mengeksekusinya menjadi barisan karya klimaks hingga mencapai puncak orgasme para pendengar. Anak Terbuang, Aborsi, Nggak Rock N' Roll, Pulau Biru, Bali Bagus,Teng-teng  Blues, dan tentunya trek titel Kampungan adalah bukti nyata.

Salah satu lagu yang menarik perhatian adalah ANJING yang mengalami sensor judul lantaran dianggap terlalu kasar. Beberapa waktu lalu, bagian interlude lagu ini kembali dimainkan Pay dan diunggah di akun Instagram-nya. Bagaimana tanggapan penggemar? Lihat di bawah:

Bersemayam juga lagu anak-anak berjudul Nina Bobo. Meski tidak memperlihatkan jual beli skill, permainan kibor Indra yang khas dan suara dengkur orang tidur yang menjadi latar membuat lagu ini begitu natural.

Jangan pernah lupakan dua lagu abadi; Mawar Merah dan Terlalu Manis yang selalu menjadi favorit penggemar. Begitu renyah dan ear-cathing, dua lagu ini masuk ke semua kalangan. Baik itu penggemar Slank atau pun bukan. 

Kampungan merupakan pembawa virus yang mampu memengaruhi siapa pun yang beruntung menjadi bagian sejarah saat album ini dirilis. Rasanya tidak berlebihan jika euforia penggemar begitu besar menantikan gelaran konser 31F. Meski tanpa Bimbim dan Kaka, mereka ingin semua lagu di album ini kembali dimainkan musisi aslinya.