JAKARTA — Museum Sumpah Pemuda resmi memperkenalkan koleksi terbaru yang penuh akan nilai historis. Artefak tersebut adalah gramofon milik Yo Kim Tjan, saudagar Tionghoa yang berani merekam lagu “Indonesia Raya” pada masa kolonial.

Penyerahan gramofon tersebut dilakukan pada Selasa, 8 Juli hari ini secara langsung oleh cucunya, Sutjitra Djaja Pranawa, kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Koleksi tersebut menjadi bagian dari saksi sejarah kemerdekaan Tanah Air.

“Gramofon ini bukan sekadar benda. Ia saksi perjalanan bangsa menuju kemerdekaan,” kata Fadli Zon saat acara serah terima di Jakarta.

Menurutnya, keberadaan gramofon itu melengkapi narasi rekaman “Indonesia Raya” yang pertama kali dibuat tahun 1927 di Batavia melalui studio rekaman Yo Kim Tjan.

Saat itu, lagu kebangsaan dimainkan dalam versi keroncong oleh Populair Orchest, dengan W.R. Soepratman memetik biola. Master rekaman lalu dibawa ke Inggris untuk diperbanyak, sebelum akhirnya kembali ke Hindia Belanda. Gramofon ini menjadi alat pertama yang memutarnya pada 1930—di tengah larangan keras pemerintah kolonial.

“Piringan hitam sudah lebih dulu kami terima tahun lalu. Kini, gramofon yang memutarnya melengkapi cerita. Ini bukti bagaimana kebudayaan menjadi medan perjuangan,” ujar Fadli Zon. Ia menekankan, Museum Sumpah Pemuda akan merangkai alur sejarah yang menjelaskan keterkaitan Yo Kim Tjan dan W.R. Soepratman agar pengunjung memahami latar perjuangan ini secara utuh.

Sutjitra Djaja Pranawa mengenang kakeknya sebagai sosok gigih yang mencintai musik dan kebudayaan. “Rekaman dilakukan pukul 2 pagi di studio yang dilapisi karung goni supaya tak terdengar pihak kolonial. Kakek saya percaya perjuangan bisa ditempuh dengan kebudayaan,” tutur Sutjitra.

Yo Kim Tjan bukan hanya kolektor musik. Ia juga mendirikan studio film dan memiliki bioskop di kawasan Roxy, Jakarta. Kiprahnya menegaskan peran kaum Tionghoa dalam mendukung kemerdekaan melalui jalur seni dan kebudayaan.

Penyerahan gramofon dihadiri keluarga besar Yo Kim Tjan, antara lain dr. Raymond Pranawa Adimihardja, dr. Asih Budi Utama, Azzezah Rachma Shakila, dan Raghnall Roosevelt Adimihardja. Dari Kementerian Kebudayaan tampak Wakil Menteri Giring Ganesha, Dirjen Pelindungan Kebudayaan Restu Gunawan, Direktur Warisan Budaya I Made Dharma Suteja, dan Kepala Museum Abi Kusno.

Fadli Zon berharap artefak ini memicu kesadaran generasi muda untuk tidak melupakan sejarah. “Dengan menyadari kekuatan masa lalu, kita makin terdorong menjaga persatuan bangsa,” tegasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+