JAKARTA - Rusia pada Hari Rabu mengatakan, mereka akan mematuhi batasan senjata nuklir yang ditetapkan dalam perjanjian pengendalian senjata yang telah berakhir dengan Amerika Serikat, selama Washington melakukan hal yang sama.

Perjanjian New START - perjanjian terakhir antara dua kekuatan nuklir terbesar di dunia - berakhir awal bulan ini, dengan Washington tidak menanggapi tawaran Presiden Rusia Vladimir Putin untuk perpanjangan satu tahun atas batasan ukuran persenjataan nuklir masing-masing pihak.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Moskow tidak terburu-buru untuk mulai mengembangkan dan mengerahkan lebih banyak senjata, menarik kembali komentar kementeriannya pekan lalu yang mengatakan Rusia menganggap dirinya tidak lagi terikat oleh ketentuan perjanjian tersebut.

"Kami berangkat dari fakta bahwa moratorium ini, yang diumumkan oleh presiden kami, tetap berlaku, tetapi hanya selama Amerika Serikat tidak melampaui batasan yang telah ditetapkan," kata Menlu Lavrov dalam pidatonya di Parlemen Rusia, melansir Al Arabiya dari AFP (11/2).

Baik Amerika Serikat maupun Rusia telah mengindikasikan mereka ingin mencapai kesepakatan pengendalian senjata baru.

Washington mendorong agar China dilibatkan dalam perundingan, dengan menunjuk pada persenjataan nuklir China yang terus berkembang.

Sedangkan Moskow mengatakan, jika China dilibatkan dalam kesepakatan baru, maka sekutu nuklir Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, juga harus diikutsertakan.

Berakhirnya Perjanjian New START, yang membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan, menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian untuk membatasi penempatan senjata paling destruktif di planet ini, yang memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.

Presiden AS Donald Trump mengatakan New START "dinegosiasikan dengan buruk" dan "sedang dilanggar secara terang-terangan."

Pada tahun 2023, Rusia menolak inspeksi situs nuklirnya berdasarkan perjanjian tersebut, seiring meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait konflik di Ukraina.

Namun, Rusia mengatakan tetap berkomitmen pada batasan kuantitatif yang telah ditetapkan.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)