JAKARTA - Penanganan bencana di Indonesia harus dilakukan menyeluruh, tidak parsial. Minimnya ‘diagnosa’ malah menyebabkan langkah mitigasi hingga korektif tak efektif.
Menyoroti bencana yang belakangan terjadi Ketum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Budi Santoso menegaskan banyak faktor yang bisa menjadi penyebab terjadinya bencana. Faktor kondisi geologis termasuk kegiatan di area yang terjadi bencana seharusnya diperhatikan.
“Jadi misalnya ini bumi dengan kondisi geologis dalam hal ini, apakah itu batuannya, apakah itu tanahnya, dengan kondisi dan sifat tertentu, tentu dia memiliki daya dukung atau kekuatan tertentu juga. Poinnya, ada area yang secara alamiah memang memiliki daya dukung yang tidak sama satu dengan yang lain. Misalnya, batuan-batuan rombakan, batuan vulkanik dalam terminologi kami atau batuan-batuan yang sudah mengalami perlapukan yang sangat intens, dia akan lebih rentan terjadi ketidaksetimbangan pada saat dibebani sesuatu yang ada di atasnya,” katanya.
IAGI mendorong pendekatan terminologi geohidrometeorologi untuk meminimalisir dampak bencana.
“Jadi ada kondisi geologisnya, ada kondisi hidrologisnya, ada kondisi meteorologisnya. Jadi ada batuan tanah penyusunnya, ada sistem distribusi dan kandungan airnya, ada juga iklimnya. Nah baru kemudian kegiatan-kegiatan yang ada di atasnya. Apakah itu oleh manusia? Apakah itu misalnya infrastruktur, Atau yang lain-lain,” katanya.
Selain itu, diperlukan pendekatan geosains analitis secara kuantifikatif yang disebut Budi menjadi bagian penting dalam menentukan langkah-langkah mitigatif dan juga langkah-langkah korektifnya.
“Mitigatif itu pencegahan, jadi untuk area-area yang kita tahu kondisi geologis, hidrologis, dan kondisi alam iklim seperti ini, sudah harus dari awal diwantiwanti itu, dibikin model. Ini area ini berbahaya, area ini agak berbahaya, sedang, tinggi, dan lain-lain,” ujar dia.
“Termasuk juga korektifnya. Pada saat itu sudah terjadi, tidak lantas karena ada kejadian di atas saja. Bisa jadi ada hal-hal lain yang berkaitan dengan kondisi alamiahnya,” sambungnya.
Hal-hal tersebut ditegaskan Budi harus dilihat secara seimbang berbasis data.
“Karena kita di IAGI melakukan hal-hal yang basisnya adalah kondisi real di lapangan, data, analisa, dilakukan oleh ahlinya, kemudian menggunakan metodologi assessment terhadapnya atau berdasarkan metodologi-metodologi yang baku atau yang umum dilakukan,” kata dia.
Pendekatan kasuistik jugaperlu dilakukan. Jika terjadi bencana, maka perlu menganalisis rentetan kejadian yang mendahuluinya.
“Jadi diagnosis permasalahan dengan obat yang diberikan itu sesuai. Kita perlu memastikan pada saat sebuah langkah korektif itu diputuskan, kita perlu mendengar ini, yang memberikan atau merekomendasikan langkah-langkah korektif itu sudah berdasarkan apa saja. Kita kan tidak bisa menjustifikasi sebuah keputusan atau langkah korektif, apakah itu sudah memenuhi kaidah sebagaimana seharusnya faktor-faktor yang punya potensi berkontribusi, mana yang lebih tinggi kontribusinya, mana yang hanya sedikit kontribusinya, itu kita tidak tahu,” paparnya.
IAGI sendiri mendorong regulasi penyusunan Undang-Undang terkait geologi atau kebumian yang memastikan aturan hingga level pelaksanaan.
“Jadi kalau misalnya area kebencanaan peta geologi, area ini tidak bagus, area ini rawan, mestinya itu diacu pada saat perubahan atau pemerintah daerah atau stakeholder akan menggunakan atau menentukan tata ruang atau membangun infrastruktur dan lain-lain gitu,” ujarnya.
“Nah, kita sedang merumuskan policy brief-nya, akan ada rekomendasi dari poin-poin yang tadi kita sebutkan, yang intinya adalah geosains basis analisis terhadap kondisi real kapasitas di lapangan dalam hal ini geologi, itu perlu menjadi aturan utama pada saat kita mencoba untuk melihat permasalahan apakah itu kebencanaan, apakah itu tata ruang, pemanfaatan,” sambung Budi.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)