JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diterapkan di sekolah-sekolah mendapat usulan penyesuaian konsep, khususnya untuk wilayah yang sulit dijangkau. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mengusulkan agar konsep Kitchen School atau dapur sekolah MBG dikhususkan bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah pelosok yang sulit dijangkau oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut Lalu, konsep Kitchen School ini penting untuk memastikan keberlanjutan dan pemerataan akses gizi bagi peserta didik di seluruh Indonesia, terutama di wilayah terpencil yang menghadapi kendala infrastruktur, logistik, dan distribusi bahan pangan.
“Kita ingin agar anak-anak di daerah 3T juga mendapatkan hak yang sama untuk menikmati makanan bergizi setiap hari sekolah. Untuk itu, saya mengusulkan agar sekolah di daerah terpencil memiliki dapur sekolah MBG,” ujar Lalu kepada wartawan, Kamis (16/10).
Lalu menegaskan usulan Kitchen School ini bersifat spesifik untuk daerah 3T dan pelosok, bukan daerah perkotaan yang aksesnya mudah.
"Karena di daerah perkotaan sudah ada SPPG yang menyiapkan sajian MBG untuk anak-anak kita," katanya.
관련 항목:
Berdayakan Ekonomi Lokal
Pimpinan komisi bidang pendidikan itu menjelaskan, dapur sekolah dapat dikelola oleh sekolah bersama masyarakat sekitar sesuai dengan regulasi dan SOP dari BGN. Dengan demikian, Kitchen School dinilai Lalu tidak hanya mendukung gizi siswa, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan di tingkat komunitas.
“Selain untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi gratis, dapur sekolah bisa menjadi sarana pendidikan praktis tentang gizi. Jadi, manfaatnya tidak hanya gizi, tapi juga pendidikan karakter dan keterampilan hidup,” jelas Legislator dari Dapil NTB itu.
Lalu menilai penerapan konsep Kitchen School dapat menjadi solusi efektif di daerah yang sulit dijangkau oleh sistem distribusi SPPG. Dengan pemanfaatan sumber daya lokal, program ini dinilai bisa lebih efisien, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi geografis serta budaya masyarakat setempat.
“Kita perlu memastikan program Makan Bergizi Gratis berjalan merata dan adil. Jangan sampai anak-anak di pelosok tertinggal hanya karena faktor jarak. Dapur sekolah adalah langkah konkret untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” tegasnya.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)