Mudik Bareng Anak, Hindari Stres Supaya Perjalanan Menyenangkan

JAKARTA – Pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri adalah momen yang dinantikan seluruh umat Muslim di Indonesia. Namun mudik lebaran harus memperhatikan berbagai hal agar terhindar dari sejumlah risiko.

Arus mudik lebaran 2025 sudah mulai terlihat sejak Selasa (25/3/2025), setelah pemerintah mengumumkan kebijakan work from anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai BUMN mulai 24 Maret.

Mudik memang akan menjadi perjalanan menyenangkan, karena ini sesuatu yang dinantikan banyak orang. Tapi di satu sisi, mudik juga bisa menjadi perjalanan berisiko, terutama bagi mereka yang turut membawa anak-anak.

Selama perjalanan mudik dan acara lebaran, Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan terdapat potensi risiko kesehatan pada anak yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, para orang tua perlu melakukan persiapan mencakup fisik dan psikologis anak serta orang tua itu sendiri.

Pemudik menunggu jadwal keberangkatan pada program mudik gratis Polda Bali di Terminal Ubung, Denpasar, Bali, Selasa (25/3/2025). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/YU)

Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, SubsKardio (K) menuturkan sejumlah risiko kesehatan yang dialami oleh anak selama mudik.

“Antara lain infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dehidrasi, mabuk perjalanan, gangguan pencernaan seperti diare yang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit, demam dan infeksi, juga ruam popok dan iritasi kulit,” kata Dr. Piprim dalam keterangan yang diterima VOI.

Kurang Istirahat Pengaruhi Imun Anak

Untuk meminimalkan berbagai risiko selama mudik, IDAI merekomendasikan sejumlah rekomendasi yang penting diperhatikan para orang tua. Memeriksa kesehatan dan melengkapi vaksinasi menjadi bagian paling penting sebelum mudik.  

IDAI mengajak para orang tua untuk langsung konsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat jika gejala tanda penyakit yang muncul seperti tampak lemas, rewel berlebihan, tidak nafsu makan, atau sulit tidur.

Perjalanan mudik bisa sangat melelahkan, terutama bagi anak-anak. Apalagi jika menempuh perjalanan darat dengan kemacetan yang tak bisa diprediksi.

Hal ini bisa mengakibatkan anak merasa sangat kelelahan. Untuk itu, orang tua sebaiknya memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup sebelum perjalanan hingga setelah sampai di tempat tujuan.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews, kurang tidur dapat menurunkan fungsi imun dan meningkatkan risiko infeksi. Tidur yang cukup membantu tubuh memproduksi sitokin, protein yang melawan infeksi dan peradangan.

“Oleh karena itu, pastikan anak tidur cukup minimal 8-10 jam sebelum perjalanan mudik, serta saat tiba di tempa tujuan,” demikian rekomendasi IDAI.

“Hindari juga aktivitas berlebihan di hari pertama karena tubuh anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru setelah perjalanan panjang,” imbuhnya.

Yang tak kalah penting untuk disiapkan saat mudik bersama anak adalah memastikan makanan sehat serta mencukupi asupan cairan. Makanan sehat seperti buah-buahan, roti gandum, dan protein hewani dapat menstabilkan kadar gula darah, memperbaiki jaringan tubuh, dan memperkuat sistem imun, serta memberi rasa kenyang lebih lama.

Stres Turunkan Imunitas 

Orang tua diminta menghindari memberi camilan atau minuman tinggi gula pada anak selama perjalanan. Ini karena makanan dan minuman tinggi gula dan karbohidrat cepat serap justru menurunkan imunitas dan memicu gangguan perilaku.

Selain itu, menerapkan pola hidup sehat termasuk menggunakan masker di tempat ramai dan mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer secara teratur dapat mengurangi risiko penularan penyakit infeksi seperti flu dan COVID-19, sebagaimana dijelaskan Badan Kesehatan Dunia (WHO). 

IDAI juga menyarankan para orang tua untuk menyiapkan obat-obatan dasar dan vitamin, serta tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar anak terutama jika menggunakan transportasi umum.

Journal of Environmental Health menuturkan, membersihkan permukaan yang sering disentuh dapat mengurangi risiko penularan penyakit. Terakhir, yang mungkin sering dilupakan para orang tua adalah membuat perjalanan mudik menjadi perjalanan yang menyenangkan sehingga anak terhindar dari stres.

“Caranya bisa membawa mainan atau buku favorit anak. Juga menghindari memarahi anak selama perjalanan, karena stres dapat menurunkan imunitas,” tutur Dr. Piprim.

Suasana di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten. (ANTARA/HO-Humas Kemenhub)

“Menciptakan suasana yang nyaman dan bahagia dapat membantu menjaga kesehatan mental dan fisik anak,” imbuhnya.

Cara lain yang bisa dilakukan supaya anak terhindari dari stres selama mudik adalah dengan mengajak anak bergerak secara teratur. Aktivitas fisik ringan dapat meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko pembekuan darah, terutama pada perjalanan panjang.

"Jika perjalanan panjang dan menggunakan kendaraan pribadi, berhentilah setiap 2-3 jam untuk mengajak anak berjalan-jalan atau melakukan peregangan," kata Dr. Piprim.

Mudik, kata Dr. Piprim, bukan hanya soal sampai di kampung halaman, tapi juga tentang menjaga kesehatan dan kenyamanan anak selama prosesnya dan ini bagian dari tanggung jawab orang tua.